Ilusi Stabilitas

Tags

, , ,

Saat pemerintah Orde Baru berhasil -meminjam bahasa Ricklefs- ‘diciptakan’, pemerintah ini menyusun sebuah ‘ilusi’ stabilitas. Ilusi berarti adalah angan-angan atau khayalan. Di permukaan terlihat baik-baik saja, namun apabila dicermati lebih dalam akan ditemui sesuatu yang ganjil. Di sisi lain, stabilitas adalah sebuah keseimbangan. Dalam kasus Orde Baru adalah negara yang aman tenteram dan ‘tidak berisik’. Ilusi stabilitas adalah pengkondisian semua informasi dengan berbagai simbol dan makna kepada warga negara, sehingga yang sampai adalah hal yang baik-baik saja. Misal, informasi tentang pencapaian dan prestasi yang dicapai pemerintah. Kondisi yang demikian agar warga negara percaya bahwa negara berada dalam keadaan baik-baik saja. Sehingga tidak ada protes.

Pemerintah Orde Baru, mencapai ilusi stabilitas dengan berbagai cara. Pertama, memonopoli semua media. Sebab media adalah alat utama rakyat untuk memperoleh informasi yang penting. Semakin banyak media, maka alternatif untuk memilah informasi menjadi banyak pilihan. Akan tetapi jika media dimonopoli satu golongan, maka informasi yang diperoleh jadi sempit. Warga negara semakin susah untuk memverifikasi kebenaran berita. Pada masa Orde pun, berita yang beredar berkisar pencapaian swasembada dan prestasi-preastasi lain seperti kemenangan kontingen Olah raga Indonesia dalam Sea Games atau Pesta Olah raga lain. Lebih jauh lagi, media televisi, terutama dalam acara ‘Dunia Dalam Berita’, kerap kali variasi berita berkutat pada kunjungan yang dilakukan presiden. Kemudian proyek-proyek pembangunan yang juga diresmikan presiden. Media pun turut membantu jargon jargon pembangunan pemerintah.

Adapun, untuk menangani media lain yang tidak selaras dengan prinsip pemerintah (baca : pemberitaan positif keberhasilan Orde Baru) maka akan dibredel. Beberapa media yang terkena salah satunya adalah Tempo. Majalah ini, dicabut izin terbitnya karena memberitakan pembelian kapal bekas dari Jerman oleh Menteri Habibie pada medio 90-an. Tentu pemerintah tidak senang. Sebab, pembelian itu bisa menurunkan harga diri negara di mata rakyat. Ciri ilusi stabilitas lain, adalah ranah-ranah kebobrokan negara jarang sekali disentuh oleh media. Negara memproteksi sangat ketat. Misal, korupsi, kolusi dan, nepotisme yang dilakukan pemerintah. Rakyat pun buta akan hal semacam itu.

Kedua, pemunculan simbol-simbol dan kebijakan. Terkait pemunculan simbol-simbol itu terwujud dalam bangunan. Pembangunan yang dilakukan Orde Baru, bernilai dua sisi. Di satu sisi merupakan kewajiban negara namun di sisi lain merupakan sebuah alat ilusi. Rakyat dibutakan dengan permasalahan lain. Misal saja, pelanggaran HAM, seperi Petrus, kasus DOM Aceh, dan Timor-Timur, serta tentu saja peritiwa 65 dan 66. Masalah pemunculan simbol diwujudkan pula dengan kewajiban pengecatan dinding berwarna kuning. Bagi semua instansi pemerintah, mulai dari gedung sekolah sampai kantor pemeritahan. Kemudian, pewajiban seragam bagi semua pegawai. Keduanya itu merupakan sebuah monopoli negara untuk membentuk kesan tertentu pada warga negaranya. Dari situ kesan yang terbentuk adalah, keharmonisan dan keselarasan. Hasilnya, ilusi stabilitas pun berhasil.

Dua cara itu, merupakan sedikit dari cara yang dikukukan pemerintah Orde Baru untuk membentuk citra aman (yang palsu) pada warga negaranya. Akan tetapi, tetap saja ‘koreng’ Orde Baru terlihat pula, meski menjelang akhir masa keruntuhannya. Misal saja, hutang luar negeri, inflasi, ekonomi yang merosot tajam, dan berbagai pelanggaran HAM. Meski begitu, sebuah apresiasi patut dilakukan, ilusi stabilitas berhasil menipu warga negaranya hampir 32 tahun.

Pergulatan Fakta Sebagai Landasan Sejarah

Tags

, , ,

Oleh beberapa sejarawan, fakta acap kali menjadi satu-satunya landasan penelitian sejarah (mutlak). Hal itu tidaklah salah. Akan tetapi yang perlu dicatat, fakta itu merupakan sesuatu yang terus diperdebatkan. Sebab beberapa sejarawan lain, ada pula yang menyangsikan sebuah fakta. Pasalnya fakta memang tidak pernah menyentuh ranah kepastian. Bahkan kerap kali membuat keragu-raguan dalam penelitian sejarah, atau pun masyarakat secara umum. Terlepas dari perdebatan tentang kubu yang saling berbeda pendapat itu : fakta adalah sesuatu yang penting. Fakta merupakan sebuah gerbang menuju pernyataan-peryantaan. Fakta historis adalah alat utama untuk mengajukan sebuah klaim pernyataan pada masa silam -historiografi.

Perdebatan perihal fakta dipetakan menjadi dua kubu. Pertama, mereka yang beranggapan bahwa fakta historis hanya akan menjadi fakta, ketika sudah dikonstruksi atau disusun oleh sejarawan. Sederhananya, fakta historis hanya akan berguna menjadi fakta ketika sudah ada campur tangan sejarawan didalamnya. Kemudian sisanya ‘dianggap’ bukan fakta historis. Dalam artian yang tersisa dari fakta yang tidak disentuh sejawaran, adalah fakta yang diluputkan. Kemudian dimanakah kemudian letak fakta historis itu? Menurut Becker, sebagai upaya menjawab kebingungan dimana letak fakta sejarah, dan bagaimana yang harus dilakukan jika ada fakta sejarah? Semua itu bisa terjawab dengan hadirnya peran sejarawan. Letak fakta sejarah adalah di pikiran sejarawan. Di sisi lain apabila ada fakta sejarah, yang harus dilakukan adalah diskusi tentang sejarah, oleh sejarawan. Dalam bahasa sederhana, sejarawan mengolah masa lalu, dengan ‘rasa’ masa kini.

Kedua, pihak yang berpendapat bahwa fakta historis adalah bahan bakar utama bagi penulisan sejarah. Maka fakta historis harus ditulis apa adanya. Menurut golongan ini, apabila sejarawan terlalu dalam mencampuri fakta, maka fakta akan semakin jauh dari kebenaran-kebenaran. Kerap kali fakta itu, melenceng karena interpretasi-intertpretasi sejarawan. Peristiwa masa lampau yang ‘mendekati kebenaran’ pun terasa semakin jauh. Itu menurut mereka. Sekilas bila diamati, golongan ini sangat ‘Ranke’. Corak tulisan sejarah yang diinginkan pun deskriptif.  Pada tahap ini fakta historis dan interpretasi sejarawan, berupa kritik, deskripsi pribadi, dan komentar-komentar lain hendaknya dipisahkan.

Perdebatan kedua kubu itu merupakan perdebatan perihal sejarah deskriptif dan analitis. Namun menariknya, menurut kelompok Ranke, fakta harus ditulis apa adanya. Sentuhan sejarawan mesti diminimalisir. Akan tetapi ihkwal fakta historis, saya pribadi mengamini Becker, bahwa sejarawan harus turut andil dalam penentuan fakta historis. Jika menurut kelompok Ranke, campur tangan sejarawan hanya akan mengacaukan fakta, saya kira kurang tepat. Fakta sudah kacau sedari dulu. Kiranya kita bahkan luput, bahwa sifat fakta adalah selalu diperdebatkan. Maka dari itu fakta tidak bisa menjadi satu-satunya titik tolak kebenaran. Ankersmit menulis, untuk memberi kualifikasi lain pada fakta, jangan diklaim kebenaran. Akan tetapi diperhalus misal : ‘berguna’, ‘penuh arti’, dan ‘dapat diterima’. Saya kira itu lebih bijak.

Plantungan

Pagar besi yang lembab kembali aku cumbu
Sepi saupi disini hanya ada suara tikus dan tetes air
Aku lihat Daryati menggigil ngilu
Menahan dingin menahan luka menahan air mata

Disudut lain Tukiyem melamun dan melamun
Tatapan nanar penuh nista dan derita
Menggerutu dan menyalahkan takdir
Berharap tak pernah dilahirkan tapi Entahlah

Semuanya gelap untukku
Semuanya palsu
Semuanya bisa
Semuanya Semaunya

Kembali kulihat penjaga gendut itu
Badut Boneka atau iblis sinting
Robot pembersih kami
Para manusia yang dianggap anjing

Wajah bengisnya tak sebengis yang lalu
Seragam kedok yang jadi andalan
Menyiksa dan menyangsi kami
Para manusia yang tak dimanusiakan

Heha hehe tawa yang memuakan
Heha hehe tawa yang menyeset hati kami
Merampas menjarah menelanjangi kami
Para manusia yang jadi kantong muntah

Tak berhenti aku berdoa Tuhan
Berdoa Memuja Menghamba
Kapan drama ini berakhir
Oh aku rindu sangat rindu anakku

Tukiyem kembali menangis
Tangis yang sama
Tangis yang ingin merdeka
Tangis yang kering keronta

Aku memeluknya erat
Dan selalu kukatakan sabar selalu
Daryati mengucek dan bangun
Kemudian tidur lagi

Lukanya dalam lukanya tajam
Wanita cerdas yang dibinatangkan
Yang direnggut paksa dari Ayah Ibundanya
Diseret bak babi hutan dan dilempar ke truk

Wanita cerdas yang mungkin salah jalan
Atau mungkin malah salah takdir
Dia masih perawan dan perawan
Setidaknya sebelum dia datang kesini
Dan semua hilang meradang melayang

Pernah suatu kali dia bercerita
Tentang tawa anak kecil yang dia didik
Tentang panggilan bu guru yang ia rindu
Mengabdi mengkaji mengais rezeki
Masa yang ingin dia hentikan
Namun tak bisa dan tak akan pernah bisa
Untuk selamanya selamanya dan selamanya

Salahkah dia memilih
Atau salahkah takdir yang memilihnya
Hidup yang pastinya tak sedikitpun dia berharap
Apalagi bermimpi tentangnya

Hidup kami kelam kejam Tuhan
Mereka tak menyebut kami manusia
Hidupku kelam kejam Tuhan
Oh Tuhan aku amat sangat rindu anakku

Sembari meninabobokan Tukiyem
Aku tak kuasa menahan debar di dada
Nasibku tak kalah pelik
Tak kalah rumit penuh derai air mata

Kembali aku pandang besi penjara
Kini giliranku menangis
Kini giliranku mengadu
Kini giliranku mengemis
PadaMu Tuhan Aku rindu anakku

Sungguh Oktober 1965 yang bajingan
Aku mengutuk pada kalian
Kalian yang telah merampok semuanya dariku
Anugrah Tuhan yang kalian jambret

Beribu kali aku bilang
Aku tak kenal Aidit
Aku tak kenal Dewan Jenderal
Aku tak kenal Soeharto

Aku hanya seorang ibu
Ibu yang sama seperti yang lain
Aku berbaur berkumpul dan bercanda
Dan Gerwani?
Itu hanya arisan

Aku tak tau apa itu politik
Apa itu kudeta
Aku hanya ibu-ibu desa
Yang kemaren lusa diludah kalian

Dan sekarang duduk di pojok jeruji besi
Bolehkah aku berteriak Tuhan?
Maukah kau mendengar?
Aku rindu anakku….

Kelamin

Tags

, ,

Lebih jelasnya, ilham tulisan ini datang pada saat mata kuliah historiografi umum. Mata kuliah yang diajarkan jurusan saya, sejarah. Memang pada awalnya, inti dari pengajarannya adalah memahami pemikiran dan sumbangsih tokoh dunia pada perkembangan historiografi.  Misal, Marx, St. Augustine, Foucalt, Machiavelli, March Bloch, Hegel sampai Ibnu Khaldun. Sebelum melangkah lebih jauh, bagi para pembaca awam, terlebih dulu harus tahu beda historiografi dan sejarah. Secara sederhana, historiografi adalah proses rekonstruksi ulang peristiwa sejarah. Upaya menghadirkan  masa lalu dengan pelbagai simbol dan makna. Termasuk tulisan, patung, bahkan monumen. Di sisi lain, sejarah adalah tentang masa lalu. Tidak lebih dan kurang. Ia sebuah peristiwa. Hanya terjadi satu kali (enmaligh). Jadi, jika Anda membaca buku yang memuat tentang rekonstruksi peristiwa sejarah.  Maka Anda tahu, itu historiografi.

Kembali berbicang mengenai mata kuliah historiografi umum. Menarik memang. Kendati begitu, yang lebih menarik adalah, salah satu ucapan perihal historiografi itu sendiri.  Dalam suatu kesempatan, Dr. Budiawan, pengajar mata kuliah tersebut berujar “Historiografi haruslah berkelamin”. Sontak beberapa menit kelas hening. Bukan karena mafhum, namun bingung. Baru kemudian, selang beberapa lama setelah mendapat sedikit pencerahan kami menjadi sedikit paham. Jadi, Dr. Budiawan ini, ingin mengatakan perspektif tulisan historiografi mestilah mempunyai jenis kelamin. Maksud beliau, apakah itu dilihat dari sudut pandang lelaki atau perempuan.

Selama ini, historiografi Indonesia terkadang luput dari perspektif perempuan. Bayangkan, untuk masuk dalam buku sejarah sekolah dasar sekali pun, seorang perempuan harus menjadi maskulin. Perempuan harus bersifat ‘kelelakian’. Faktanya adalah perang. Penafsiran perang, selama ini, adalah kegiatan yang dilakukan lelaki. Perempuan hanyalah menyokong dari belakang dengan doa dan berucap dalam hati ‘merelakan’. Tetapi terdapat segelitir perempuan yang mendobrak tatanan. Mencoba keluar dari sisi feminis menyebrang menuju ranah maskulin. Masih jelas dalam ingatan, tentang sebuah tulisan Nyi Ageng Serang. Ia harus berperang. Ditulis dengan sedikit hiperbola, Nyi Ageng Serang berperang dengan menyibakkan dan memutar selendang untuk melawan pasukan VOC. Hasilnya, ia pun masuk dalam historiografi. Kasus serupa terjadi pada tokoh wanita lain. Cut Nyak Dien istri Teuku Umar. Berperang demi Aceh. Martha Kristina Tiahahu yag ikut ‘mengangkat senjata’ di Maluku untuk melawan VOC.

Dari kesemuanya itu, dapatlah kita tahu. Selama ini perspektif maskulin sangat dominan mewarnai historiografi Indonesia. Terlepas dari itu, historiografi kita memiliki corak lain, sangat militeristis. Meski begitu kita tidak bisa mengeneralkan. Peran perempuan menjadi lebih manusiawi ketika nama R.A. Kartini dan Dewi Sartika mencuat. Perempuan tidak melulu harus berperang sebagai upaya mengukir namanya dalam sejarah. Sekarang, tulisan Anda berkelamin apa?

Setya Novanto Manusia ‘Ideal’ Indonesia

Tags

, , ,

Saya kira kelakuan Setya Novanto (SN) dalam kasus papa minta saham, adalah hal yang kurang ajar sekaligus wajar. Maklum, kebutuhan perut SN ternyata lebih menggebu daripada citranya sebagai Ketua DPR. Meskipun dalam pandangan saya, dari dulu, ia sudah tidak memiliki citra. Satu-satunya hal yang patut dibanggakan adalah pipinya yang chubby nan menggemaskan itu. SN terbukti mencatut nama Jokowi selaku Presiden. Kepentingannya adalah untuk sedikit dapat limpahan ‘receh’ dari perpanjangan kontrak Freeport. Laku yang demikian membuat sang Presiden geram. Tetapi bukan saja kepala negara cum pemerintahan itu yang gemes akibat ulah nakal SN. Sudirman Said (SS) selaku Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pun ikut pura-pura gemas. Aksi kepura-puraan SS, menyulap ia menjadi pahlawan dadakan. SS menyeret SN ke pangadilan. Sampai akhirnya kita tahu, hal itu berakhir dengan ketidakmujuran SS.

Kendati begitu bukan saudara SS yang bakal ada dalam coretan kecil saya ini. Tetapi saudara SN. Kelakuan SN yang mencari untung lewat ‘proyekan’ Freeport sungguh kebangetan. Meski begitu saya berbaik sangka. Mungkin SN kurang uang untuk membelikan kaset Qasidah istri, atau mungkin kekurangan dana untuk membiayai anaknya yang bersekolah di kuil Shaolin. Sungguh mulia sosok SN dalam menunaikan tugas sebagai kepala keluarga. Gaji DPR yang dibawah UMR memang menyusahkan SN dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, rupanya.

Meski begitu, jangan buru-buru menghujat. Sebab SN lain pun banyak. Tentu. Pun manusia semacam ini telah ada jauh, bahkan pada masa awal negara ini mulai ajar berjalan. Perselingkuhan antara elite politik dengan pengusaha merupakan hal yang cukup purba. Kalau boleh meminjam istilah seseorang yang saya lupa namanya, ‘ojo kagetan, ojo gumunan’. Pada 1950an, kala nasionalisasi sedang gencar dilakukan. Para elite politik berlomba-lomba mencari proyekan. Bahkan ada yang mulai membangun kerajaan bisnis. Nasionalisasi yang oleh Thomas Linblad, merupakan bagian dari proses dekolonisasi merupakan pengambilalihan perusahaan swasta (Belanda) ke tangan negara. Dalam prosesnya pengambilalihan itu dilakukan secara paksa. Mungkin hal yang sama ketika mantan Anda direnggut. Rasanya sakit memang. Pada kasus lain, negara pun terkadang membeli saham. Sebagai contoh, adalah Javasche Bank (sekarang bertrasformasi menjadi Bank Indonesia). Bank semi-swasta yang kemudian dibeli sahamnya oleh negara.

Perkembangan berikutnya, setelah nasionalisasi dilakukan. Negara mengembangkan kebijakan gerakan Benteng. Kebijakan itu memberi lisensi khusus untuk pengusaha pribumi. Meski begitu, sebagaimana curhatan saya dengan dosen tersayang, Pak Bambang Purwanto, lisensi-lisensi itu malah dipratikkan oleh elite-elite politik. Pengusaha Thionghoa pun diuntungkan. Berakar daripada lisensi-lisensi itu, -ingat bukan lisensi merk jilbab Zoya oleh MUI- muncul sebuah persekutuan aneh antara elite politik dan para pengusaha. Muncul sebuah ketergantungan dan perselingkuhan serta hubungan kumpul kebo antara elite politik dan pengusaha (pada 1950-an lebih banyak dengan pengusaha Cina). Istilah keren dari hubungan yang lebih rumit dari LDR itu adalah dependent borjuasi. Budaya ‘kong kali kong’ ini yang kemudian berkembang pada masa Orde Baru bahkan sampai sekarang. Bedanya, sekaranf proses perselingkuhan elite politik bukan hanya dengan pengusaha pribumi atau istri orang saja. Tetapi telah merambah kepada pengusaha asing. Tak terkecuali Freeport.

Maka dari itu, SN dalam kasus Freeport sebenarnya patut diteladani. Ia merupakan ‘produk’ Indonesia yang mewarisi warisan leluhur dan terus menjunjungnya. Pada titik ini, saya berhenti mencibir beliau dan mulai sadar. Bahwa sesengguhnya Mas SN ini merupakan representasi Indonesia paling mendekati sempurna.

Njenengan pancen Huasuu!

Sang Ambisius

Tags

, , ,

Saya Bagus Zidni Ilman Nafi. Sapa saja dengan : Bagus. Nama itu disematkan Abah saya. Saya yakin. Lagi pula sudah saya klarifikasi. Nama saya mengandung arti kira-kira : Anak lelaki yang tampan yang (semoga) berlimpah ilmu bermanfaat. Sungguh berat memang. Lahir di pesisir pantai utama Jawa. Dididik secara ketat terutama ikhwal agama, dulu. Sebab Ayah saya sudahs  jatuh cinta dengan salah satu organisasi keagamaan. Salah satu yang tersebesar di Indonesia : NU. Ia kalau orang Jawa bilang : sangat ngelotok.

Saya bercita-cita, dan mempunyai beberapa misi. Saya akan menjadi orang Indonesia pertama yang: meraih nobel sastra, dan nobel perdamaian. Pada usia sekitar 30-an, menjadi wakil untuk duduk di Dewan Perdamaian PBB. Namun sebelum itu, saya akan menjadi Menteri Luar Negeri RI. Menjadi singa podium di semua forum. Meski sebetulnya saya agak pendiam. Dan akhinya, saya juga akan menjadi orang pertama dari Indonesia, yang menjadi Sekjen PBB.

Ketika Tuhan memanggil saya. Dalam hening. Sekelebat terbayang. Pemakaman saya akan menjadi yang termegah di dunia. Di jalanan orang seperti kerasukan, meratapi kepergian saya. Foto saya di pajang di kamar anak-anak di seluruh dunia. Seorang anak akan menunjuk potret diri saya, sembari bilang dengan bangga “saya ingin menjadi seperti dia”. Di bagian dunia yang lain. Foto saya dikalungi bunga. Semua doa dari agama mana pun, kepercayaan apa pun, terlantun untuk mengantar saya menemui Tuhan.

Saya percaya bahwa yang paling penting adalah memanusiakan manusia. Tuhan sayang mahluknya. Namun, dia akan lebih sayang pada mahluk yang mengayomi mahluk ciptaannya. Sebuah penghargaan bagi kerja-kerja ke-Tuhanan yang diembanNya. Walaupun saya tahu dia tidak perlu pujian. Tapi saya  perlu dan butuh untuk menjilat Tuhan. Bahkan seebtulnya Tuhan tidak perlu dibela. Apabila ada mahluk yang menyerang hakikatnya. Ia bisa membela dirinya sendiri.

Jadi mengapa saya menulis diri saya sendiri? Saya ambisius.