Bagaimana kalau kita nikmati Gaj Ahmada sebagai sastra?

Patung Gadjah Mada

-sumber gambar kompasiana.com-

Beberapa bulan yang lalu, viral perihal Gaj Ahmada membuat saya tertunduk lesu. Pemahaman seperti itu menampar nalar saya sebagai orang yang bergelut dalam disiplin ilmu sejarah. Saya kemudian ikut terlena untuk menyebut mereka sebagai kalangan pseudo science sekaligus pseudo history. Upaya mereka untuk mengklaim warisan budaya kalangan lain adalah satu hal. Dan klaim Gaj Ahmada sebagai tulisan sejarah adalah lain hal.

Sangat dimaklumi bahwa semua orang bisa menulis sejarah. Namun perlu disadari juga bahwa sejarah dan sastra sangat tipis perbedaanya. Sama saja ketika kita mengajukan pertanyaan, adakah fiksi dalam sejarah? Adakah fakta (historis) dalam sastra?

Sejarah sebagai ilmu bukan representasi langsung dari  objektivitas masa lalu. Mau tidak mau pasti akan ada jarak. Sejarah sebagai kenyataan terjadi satu kali pada masa lalu dan tidak terulang, di sisi lain sejarah sebagai rekonstruksi peristiwa baik tulisan atau lisan adalah merupakan produk dari bahasa, wacana, dan pengalaman dengan konteks kepentingan tertentu. Baik sejarah dan sastra sebenarnya bergulat dalam hal yang sama : bahasa.

Sebagai pengingat, realitas masa lalu yang objektif tidak dapat dicapai oleh sejarawan. Kemudian sebuah rekonstruksi masa lalu bernilai subjektif. Dikatakan demikian karena hal itu terkait dengan tingkat pemahaman, dan latar belakang sejarawan. Narasi rekonstruksi yang kemudian dilambangkan dalam simbol-simbol kebahasaan itu, bersifat dinamis. Hal itu dapat berubah dari waktu ke waktu, dari tempat yang satu ke tempat yang lain, demikian juga dari orang yang satu ke orang yang lain. Sartono Kartodirdjo mengatakan bahwa tidak ada yang ‘final’ dalam sejarah. Maka jangan tertegun jika pemahaman dari Gajah Mada berubah ke Gaj Ahmada. Itu hal yang biasa dalam rekonstruksi masa lalu. Tidak usah gumunan.

Sementara di sisi lain,  sastra pada banyak kasus mampu berdiri sejajar dengan menghadirkan fakta masa lalu dengan imaji kebahasannya. Maka dari itu, menyitir Bambang Purwanto –sejarawan UGM- kebenaran (rekonstruksi) sejarah dan sastra adalah kebenaran yang sifatnya relatif. Karena mau bagaimana pun juga, kebenaran dalam rekonstruksi sejarah tidak akan mencapai pada titik absolut. Pasalnya ia tidak membutuhkan teori penjelasan yang dapat diverifikasi melalui pengujian empirik.

Mengingat hal itu, bagi Anda yang tidak bisa menerima perihal Gaj Ahmada sebagai karya sejarah. Maka Anda sebetulnya cukup menganggapnya sebagai sastra saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s