Tags

, , ,

@yellow-cabin.com

@yellowcabin.com –

Penghujung tahun 2015, Bre Redana dengan nada satire menulis artikel yang cukup mengguncang dunia media : “Inilah Senjakala Kami..”. Bagi saya yang berkecimpung di dunia media –pers mahasiswa BPPM Balairung UGM- hal ini cukup mengerikan. Media cetak sudah mencapai titik nadirnya. Apalagi Bre Redana membuka kalimatnya dengan sebuah pernyataan “Belakangan ini, seiring berlayarnya waktu, kami wartawan media cetak, seperti penumpang kapal yang kian dekat menuju akhir hayat”. Kapten Bre –sebagaimana orang media banyak menyapa- memberi satu bukti rujukan tentang tutup lapaknya beberapa media. Salah satunya adalah The Jakarta Globe, Sinar Harapan, dan juga tabloid Bola.[1] Maka pemilihan senjakala media cetak ini, sekilas apabila tidak direnungkan lebih dalam lebih kepada permasalahan pemenuhan ekonomi, bagaimana media cetak bisa bertahan hidup. Perkembangan teknologi semakin maju. Para pengiklan media cetak mulai beralih ke media dalam jaringan (daring) atau online. Namun apakah benar demikian?

Saya kira tidak. Ignatius Haryanto seorang pengamat media mencoba membuktikan bahwa media cetak tidak gulung tikar sepenuhnya, dalam koridor ekonomi. Memang ada keterkaitan antara tumbuh pesatnya media daring dengan minimnya investasi di media cetak. Tetapi itu tidak membuktikan sepenuhnya media cetak kalah. Dari data yang ia peroleh, pada kurun waktu 2014 pendapatan media cetak masih unggul dari media daring, yakni sekitar 10 triliun rupiah. Sedangkan, media-media online di tahun yang sama hanya mendapat keuntungan kisaran 700-800 miliar. Maka dari data pendapatan iklan media cetak lebih tinggi.[2] Ignatius pun menyoroti, faktor penurunan ekonomi di skala global juga tururt memengaruhi arus ekonomi media di Indonesia. Saat dia menulis artikel itu, ia melihat keadaan ekonomi memang sedang kurang menguntungkan.

Senada dengan Ignatius Haryanto, reporter Rappler.com Febriana Firdaus dalam liputannya menyajikan data yang hampir serupa. Media cetak tidak benar-benar kalah. Febro –sebagaimana ia disapa- memperolah data yang cukup menarik. Ia mewawancara Daru Priyambodo, Pemimpin Redaksi majalah Tempo. Daru, memaparkan bahwa satu-satunya yang bisa menggusur bisnis koran adalah perubahan ekonomi global dan perubahan redaksi di media masing-masing. Ia kemudian menambahkan jika yang terjadi sekarang adalah, seleksi media berdasarkan pengaturan keuangan media. Perkara ‘sehat’ tidaknya keuangan perusahaan. Dalam wawanacarannya dengan Rappler, Daru juga membenarkan bahwa pendapatan cetak lebih tinggi dari media online. Grup Tempo mengelola Majalah Tempo, Koran Tempo, Tempo.co dan Tempo TV. Meski dalam wawancara itu, dengan cukup  waswas ia pun melihat gerak pendapatan media online terus mengalami pertumbuhan sebesar 15 persen tiap tahunnya.[3] Jika masalah konteks ekonomi, kita belum melihat senjakala yang konkret. Kemudian apa yang dikhawatirkan Bre Redana dalam tulisannya? Senjakala yang mana yang beliau maksud?

Tentang Pengaruh Masyarakat Informasi

Bre Redana, dalam tulisannya sebetulnya lebih menyoroti pada satu hal. Lunturnya semangat para jurnalis di era Informasi ini. Ia menyinggung ekonomi memang benar. Namun bukan itu yang kemudian menjadi kekhawatiran Bre. Dalam masyarakat informasi, yang memudahkan semua akses informasi, ternyata menimbulkan satu konsekuensi terutama pada media, ataupun profesi wartawan pada khususnya. Ia menulis satu keresahan begini :

“[D]i mana pun di dunia, jurnalisme berangkat dari semangat coba-coba, didasari kebutuhan untuk mengembangkan fondasi kultural bagi perkembangan masyarakat. Semangat tersebut menyemaikan atmosfer kerja yang setengahnya beraura misi suci, menegakkan kebenaran, mengembangkan compassion, mengeksplorasi truth alias kasunyatan. Para pelakunya adalah figur-figur otodidak, yang pada perkembangannya sebagian memiliki kewibawaan intelektual melebihi doktor.”[4]

Menurut Bre, profesi wartawan adalah semacam tugas mulia. Ia harus dilakukan dengan hati-hati. Sebagaimana tujuan utama, wartawan mencari kebenaran. Mungkin bukan kebenaran mutlak tapi kebenaran metode. Dalam artian ia harus sesuai dengan prosedur-prosedur jurnalistik. Sementara suara yang akan wartawan advokasi lebih kepada ‘isme’ yang media anut. Dari pendapat ini kemudian, apa relasi dengan masyarakat informasi? Apa dampaknya bagi media?

Masyarakat informasi yang dicetuskan oleh Manuel Castell, dalam bukunya The Information Age Vol III End Of Millenium mempunyai satu konsekuensi sosial. Teknologi yang kemudian berkembang pesat. Lalu lahirnya masyarakat di ranah virtual. Membuat dunia seolah tak berjarak. Dampak paling nyata adalah masyarakat menjadi serba cepat dan instan. Masyarakat informasi a la Castell melahirkan platform media gaya baru : Media daring atau online. Kemudian yang menjadi celaka adalah, media online ini cukup mencederai gagasan jurnalisme dan dan jurnalistik yang telah lama dianut. Terutama dalam konteks Indonesia.

Lucya Andam Dewi, Ketua IKAPI, beranggapan bahwa hal ini berkaitan dengan masa lampau Indonesia. Histori masyarakat Indonesia lebih berkaitan erat dengan lisan daripada tulisan. Sebelum literasi mampu menggenapi sejarah bangsa ini, teknologi sudah keburu masuk. Hal ini dibuktikan dengan antusiasme masyarakat pada televisi yang jauh lebih tinggi daripada membaca buku. Pun teknologi bergerak begitu cepat –jika boleh hiperbola, kecepatannya melebihi cahaya. Ketika masyarakat sedang terlena dengan kotak tertawa berupa televisi, belahan bumi lain tengah asyik dengan sebuah dunia jejaring bernama internet.

Pada konteks Indonesia, masyarakat kita lebih gemar berselancar di dunia maya, ketimbang membaca buku, majalah, atau pun koran. Data Global WebIndex yang dirilis pada Januari 2015 menunjukkan jumlah pengguna internet di Indonesia 73 juta pengguna. Sekitar 74 persen dari jumlah tersebut merupakan pengguna aktif internet mobile. Setiap orang dalam sehari rata-rata mengakses internet selama 3 jam 10 menit melalui gawai pintar –atau biasa orang sebut smartphone. Hasil riset lain yang dilakukan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia -PusKaKom Universitas Indonesia pada 2014 menyebutkan, 60 persen pengguna memanfaatkan akses internet untuk mencari berita terkini.

Di sisi lain, ia punya nilai kepraktisan. Namun tidak memberikan pengetahuan yang tuntas. Menanggapi gejala itu, pelbagai media beralih dari koran cetak menuju media daring atau online. Tetapi yang menjadi masalah, ia harus melakukan penyesuaian konten, atau bahkan merumuskan kembali. Karakteristik tulisan media daring lebih kepada tulisan pendek dan memberi pengetahuan yang tidak tuntas. Ia tidak dalam dalam mewartakan berita. Namun beberapa media tetap bersikeras untuk mendirikan media daring. Meski dengan pelbagai konsekuensi. Salah satunya ‘sedikit’ melanggar nilai-nilai jurnalisme dan metode jurnalistik yang Bre Redana yakini.

Pelanggaran kode jurnalisme sebagai gagasan yang luhur, dan jurnalistik sebagai upaya pencarian kebanaran jelas bukan merupakan hal yang baik. Media daring menjadi hampa dalam pemberitaan. Sugihandari, dalam tulisannya di Kompas berusaha menangkap fenomena itu. Bahwa media daring atau online sangat minim dalam kedalaman berita. Ia mencontohkan dalam  kasus penangkapan Bambang Widjojanto. Kasus itu sudah dikupas lengkap oleh media daring. Kemudian yang menjadi unik sekaligus miris adalah, tidak menyisakan fakta berita baru dalam setiap pemberitaan.[5] Sebab dalam sudut pandang saya, pada kasus ini ia mengutamakan kecepatan

Tulisan Sugihandari didasarkan atas hasil pantauan atas enam surat kabar nasional (Kompas, Media Indonesia, Republika, Koran Tempo, Koran Sindo, dan Indopos, edisi Sabtu, 24 Januari 2015) kembali mengangkat isu yang sudah diulas media daring meskipun ada upaya dari media cetak harian untuk memperdalam tulisan dengan mengangkat fokus terkait apa yang akan terjadi setelah peristiwa tersebut. Sugihandari meganalisis dengan mengutip Ninok Leksono dalam tulisan berjudul Surat Kabar di Tengah Era Baru Media & Jurnalistik (2007) menjelaskan, semakin panjang jarak waktu pemberitaan dengan peristiwa terjadi, semakin dalam berita yang dihasilkan. Level satu, berita awal di mana semua informasi terkait dengan peristiwa dilaporkan. Level dua, berita perkembangan yang mulai menjelaskan peristiwa, latar belakang, dan hubungannya dengan hal lain. Level tiga, berita lanjutan yang mencoba menjawab pertanyaan lanjutan mengenai peristiwa awal. Terakhir, kesimpulan, yaitu kajian ulang atas peristiwa yang terjadi serta konsekuensinya.

Bre Redana pun sebetulnya dalam tulisannya berusaha membandingkan. Kerja-kerja jurnalis media cetak dengan media online. Ia mengkritik ciri media online sebagai pengaruh dari masyarakat informasi yang serba cepat. Bre menilai, yang pertama mengabarkan belum tentu yang terbaik. Karena tak jarang para jurnalis hanya menyalin press release untuk kemudian lagsung diberitakan. Tujuan itu adalah supaya hadir menjadi yang pertama bagi pembaca. Maka penekanan verifikasi, verifikasi, dan verifikasi, sebagaimana dicetuskan Bill Kovach dalam bukunya Sembilan Elemen Jurnalisme seolah tidak dipedulikan sama sekali. Menjadi miris memang. Kemudian Bre juga mengkritisi perilaku jurnalisme yang makin tergantung dengan internet. Internet memang menyediakan semua data, tapi dia tidak akan pernah bisa menggantika proses pertemuan dan wawancara, demikian tulis Bre. Maka relasi antara masyarakat informasi dengan jurnalisme kita adalah : ia mencederai itu. Karena pada akhirnya yang disebut Bre sebagai Senjakala adalah, runtuhnya semangat jurnalisme kita.

***

[1] Bre Redana. “Inilah Senjakala Kami…” Kompas. 28 Desember 2015.

[2] Igantius Haryanto. “Senjakala Koran dan Jurnalisme Kita” Kompas. 7 Januari2016.

[3] Lihat  http://www.rappler.com/indonesia/117757-senjakala-media-cetak-bre-redana

[4] Lihat  Bre Redana. “Inilah Senjakala Kami…” Kompas. 28 Desember 2015.

[5] Sugihandari. “Tantangan Surat Kabar di Tengah Puasaran Teknologi” Kompas,  22 April 2016.

Advertisements