Tags

, , ,

@ilustrasi-tribunnews.com

@ilustrasi-tribunnews.com –

Aku membayangkan, dan cukup bulat sudah untuk mengamini itu. Aku ingin mati dalam usia yang tidak terlalu tua. Pun tidak juga terlalu muda. Sekiranya adalah umur 45 tahun. Usia 46 pun boleh juga. Supaya angka kematianku sama dengan nomor pembalap Valentino Rossi. Aku menaiki podium, kala memimpin suatu sidang. Tepatnya sidang umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Kami mendukung Amerika dan Inggris untuk dihukum berat. Semua negara anggota PBB atau pun tidak, harus bersetuju tentang penandatanganan, bahwa semua negara akan menutup diri dari Amerika.

Terdapat skenario yang begitu rumit untuk aku ceritakan. Tetapi ini bukanlah sebuah klaim. Anda, nikmatilah saja pertunjukkan ini. Masing-masing negara harus berani mengambil keputusan. Dengan catatan pula, mengesampingkan risiko yang ada nanti. Aku mendesak. “Ini demi kemanusiaan”. Gumamku. Sudah banyak darah yang tertumpah. Penyakit akut dewasa ini adalah terus melakukan ‘pembiaran-pembiaran’  itu.

Aku mendengar anak-anak berdecit dalam setiap tidurku. Beberapa muncul dengan wajah terkena lepra. Dan yang lainnya datang ke mimpiku, ke kamar tidurku dengan membawa kepala, dan dalam kondisi tubuh yang tidak sempurna. Seorang anak kecil menaiki ranjang tidurku dengan wajah tak berbentuk. Aku berkeringat. Ketika aku menengok ke kanan, ada beberapa anak sedang merangkak. Kedua kaki mereka hilang. Mereka semua memandangku dengan nanar. Miris sekali aku melihat. Apakah ini gambaran paling jujur dari perdaban sekarang? Aku menolak mengimani, jika perang adalah kondisi yang ‘wajar’. Oh kemana perginya peradaban itu? Buku-buku yang kalian tumpuk sebagai hasil dari berjam-jam diskusi? Rakyat mana yang kita bela?

Aku membenci segala perlakuan kekerasan. Atas nama agama, negara, bahkan Tuhan. Sudah banyak terminologi perang di jalan Tuhan itu muncul. Dan aku miris ketika kalian membanjiri jalan Tuhan dengan darah, dan memagarnya dengan moncong senjata. Terlebih dulu kalian asah dengan membenturkannya dengan kepala anak-anak tanpa dosa.

Sebelum aku naik ke podium, apa yang aku harapkan di dunia untuk hadir dalam hidupku, sudah lebih dari cukup. Aku berkeinginan, dan aku berusaha meraba. Sidang itu sedang sangat gaduh. Para diplomat itu, memaki-maki dengan bahasa yang tidak pantas dikeluarkan oleh pembawa muka negara. Aku sudah mencapai semua hasrat dalam hidup ini. Mendapatkan cinta yang kompleks. Kisah yang tidak begitu jauh menderita, dan paling manis menurutku. Aku mendapatkan kebebasan perasaanku untuk memilih. Aku tidak pernah membiarkan dunia mendikte keinginanku.

Aku telah melihat salju kala usia 23 tahun. Aku merasakan kanal-kanal Amsterdam yang muram itu. Bebatuan yang berbicara, “kami ada karena tanahmu. Benar sekali, tanahmu adalah tempat kami mengapung”. Aku menangis kala itu. Pasalnya sebelumnya, aku menangis tapi dengan musabab yang berbeda. Aku gagal menguasai bahas Inggris dan Belanda. Keduanya, syarat wajib untuk masuk ke Amsterdam University.

Dan sekarang disinilah aku. Jauh dari Ayah dan Ibuku serta adik-adikku. Dan aku bisa berdiri bangga, dengan memandang wajah keledai para tetangga pengganggu itu. Rasakan kau. Itu untuk kalian. Aku senjata Ibuku. Aku sangat senang. Rasanya dunia sudah jadi milikku. Aku sudah tidak berhasrat pada makanan, produk, teknologi, mata uang dari belahan dunia mana pun. Kiranya aku sudah siap mati. Aku tak ingin terbangun dari mimpi. Sebentar lagi aku akan mendapatkan kematian terindahku. Aku melangkahkan kaki menuju mimbar sidang, di Jenewa. Ketika aku belum menyelesaikan sebuah kalimat “Ladies…. and….”

Door.!!! Peluru menembus dadaku. Tepat menghujam di antara tulang rusukku. Ini seperti aku ditelanjangi.

Aku tersenyum. Ini kematian yang aku cari.

Advertisements