Sebelum Diambil Oleh ‘Lupa’

@erlita
@erlita –

Sastrawan fenomenal Milan Kundera, pernah berujar perihal sebuah kenangan. Sepintas peristiwa masa lalu, yang apabila disimpan dalam memori manusia akan bisa sirna. Pasalnya, memori, ketika masuk dalam kerja otak bakal diseleksi. Mana yang layak untuk tinggal, dan mana pula yang mesti moksa –hilang. Layaknya film Inside Out, memori utama dan terkuatlah yang akan bertahan. Ia membentuk pohon memori yang mengakar kuat ke tanah, menjulang tinggi ke langit. Apa yang bakal saya tulis disini adalah sebuah upaya untuk menjaga, agar tidak -sebagaimana menyitir Milan Kundera- “[h]ilang diambil oleh lupa”. Sebab lupa mempunyai kuasa bak Tuhan dalam dunia dystopia Milan Kundera. Dunia imajinasi yang Milan buat sendiri. Dan ini adalah sebuah noktah tentang (percobaan) melakukan refleksi hidup sebagai kodrat alamiah manusia. Barang tentu agar nasib sebuah kenangan, tidak seironis dan sesatire penggalan sajak Soe Hok Gie:

Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya

Tentang tujuan hidup yang satu setan pun tahu

Mari sini sayangku, kalian yang pernah mesra denganku

Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung

Kita tak pernah menanamkan apa-apa

Kita tak akan pernah kehilangan apa-apa…

***

Selayaknya anak-anak pedesaan pada umumnya, saya dekat dengan kultur-kultur pedesaan : gotong-royong, tegur-sapa atau dalam bahasa Jawa orang-orang sering menyebutnya dengan srawung. Seharusnya saya tidak akan kaget dengan hal itu. Meski begitu, muasalnya berawal ketika saya menuntut ilmu di Universitas –UGM Yogyakarta. Awalnya ada desir dalam dada. Seperti ketika menonton film bertemakan heroisme. Terdapat rasa bangga yang membumbung memenuhi dada. Kala sang pemeran utama berhasil meredam segala huru-hara. Tetapi kala masuk ke Universitas itu pula, merupakan gerbang menuju keterasingan. Saya menyebutnya terasing dari masyarakat.

Pijakan pertama di Universitas membuat saya terasing. Meminjam ide Karl Marx, Filsuf cum penggagas sosialisme menyebut kondisi keterasingan dari masyarakat dengan terminologi ‘Alienasi’.  Kondisi ketika seorang menjadi ling-lung, bingung, dan gamang akan identitas dirinya. Marx memberi contoh buruh pabrik. Buruh pabrik yang bekerja untuk industri mengalami alienasi dari : ia menghasilkan produk tapi tidak bisa menikmati, ia teralienasi dari komunitasnya sendiri karena jam kerja yang larut dan menguras. Akan tetapi yang mesti digarisbawahi, pada intinya alienasi tidak datang dengan sendirinya. Ia ada sebagai implikasi dari kondisi dan ‘tekanan’ lingkungan sekitar yang disadari atau tidak, turut membentuk pola pikir kita kemudian.

Disorientasi Diri

Dalam satu episode dalam hidup saya, Universitas seolah menjadi satu buah kandang. Kita dijejali oleh beragam kerangka teoritis. Mungkin hampir seharian. Kemudian pada sore harinya kita harus berhadapan dengan laptop yang bisu. Hanya untuk menggugurkan kewajiban mengerjakan tugas. Di lain pihak, bagi beberapa kolega yang berkuliah di kluster ilmu Saintek –ranah-ranah ilmu pasti dan postivistis- ia harus sedikit menahan kram di bagian tangan, untuk menulis laporan praktikum. Kita seperti berinteraksi dengan benda-benda mati. Teoritis dan kesibukan akan itu, mengesampingkan akan hal-hal lain. Akhirnya kita tunduk pada sistem. Sedang pada realitasnya nanti, hal itu hanya memberi sepersekian persen dalam terjun ke masyarakat nanti. Pada gilirannya mentalitas menjadi bekal utama. Anda boleh tidak setuju. Setidaknya itu menurut kacamata saya.

Di sisi lain, pada kasus yang tidak jauh pula. Pola interaksi dengan komunitas akademisi –sebutan lebih terhormat untuk mahasiswa?- terkesan memuakkan. Jarang sekali terdapat obrolan berbobot mengenai satu hal yang serius. Saya, atau pun Anda, mungkin masih mengalami masa puber yang tidak tuntas. Kita mengalami disorientasi sebagai mahasiswa. “[T]entang visi sebagai manusia seutuhnya. Kerja-kerja memajukkan peradaban dan memuliakan manusia dengan pola pikir kita sebagai mahasiswa. Karena kita bukan cuma siswa. Terdapat imbuhan ‘Maha’ sebelum kata ‘siswa’. Kita dituntut lebih bukan hanya sekedar hafal Pancasila dan lagu Indonesia Raya, yakni kerja-kerja untuk rakyat : sebut saja pengabdian”. Begitu setidaknya pendapat Romo Mangun yang humanis. Beberapa teman saya lebih miris. Kuliah adalah berkisar antara tidur dan menghabiskan uang.

Hingga sampai pada kalimat ini, saya hanya ingin bicara. Bahwa justru setelah menjadi mahasiswa, saya sebagai orang desa, (hampir) hilang rasa kedesaan saya. Bentuk konkret adalah ketika pulang, saya merasa asing saja. Ada satu hal yang telah berubah dalam diri saya. Hal itu mengejawantah menjadi bentuk rasa sungkan, segan, dan sedikit canggung untuk membaur. Sebab saya tergolong mahasiswa yang kerap kali tidak pulang. Hanya berbilang dua kali setahun saya pulang. Yakni liburan semester dan ketika Hari Raya Idul Fitri.

Nampaknya dalam diri saya mulai mengalami fase rasionalitas atau renaissance semu. Fase ketika saya mulai ingin merasionalkan, atau pernah tidak setuju pada kultur desa. Sebagai gambaran, keresahan saya akan kultur desas-desus ibu-ibu sebagai kontrol sosial. Sentimen pada anak-anak desa yang mulai beranjak ‘gondes dan mendes’ (sebutan untuk anak-anak yang ugal-ugalan dalam kacamata orang tua konservatif), dengan gaya rambut bercat terang bak bohlam lampu merk Phillips. Pun kesangsian saya mengapa, banyak kalangan tua yang masih begadang –atau juga menikmati waktu siang dengan minum kopi. Dalam kacamata ekonomi, Peter Boomgard -Orientalis Belanda ini- menyebut kultur orang Jawa yang gemar bersantai-ria (atau dalam bahasa Jawa disebut ‘nyakruk’) sebagai membuang waktu produktif(?)

Tanpa saya sadari. Kekakuan kelas dan teori buku sedikit terbawa. Saya menjadi pribadi yang kaku dan sangat teoritis. Alasan itu sebetulnya patut disangsikan. Pasalnya, sejujurnya ketidakcocokan itu lebih banyak dibumbui rasa sentimentil didalamnya. Tapi penilaian itu bukanlah hal yang tepat. Karena kemudian lupa dan alpa. Dalam kehidupan pedesaan, saya atau pun Anda, hanya harus menikmati saja dan menerima. Mengalir bagai air. Layakya air di sungai tempat Sidharta bertapa. Ia tenang, hening, serta jernih.

Pada episode selanjutnya rasa kedesaan saya yang (hampir) purna. Mendapati satu bentuk jati dirinya kembali. Sayangnya, tidak melalui buku Samuel Huntington, Fukuyama, Kuntowijoyo, atau pun Michael Foucault. Tidak pula lewat novel-novel politis George Orwell atau eksistensialismenya Albert Camus, maupun sajak romantisnya Pablo Neruda. Akan tetapi melalui ‘sekilas peristiwa’ yang tidak lama, namun bermakna. Kalau boleh latah, ini meninggalkan lubang yang dalam di memori saya sebagai manusia. Sekilas peristiwa itu bercerita perihal bentuk konkret dari sabar, emosi, memadu-padan, syak-wasangka antar manusia, kerja keras, atau sekedar pelajaran toleransi. Dan tidak lupa, sewajarnya narasi dalam hidup setiap anak Adam, sekilas peristiwa ini juga bicara ikhwal : cinta. Sekilas peristiwa itu, didapuk Universitas dengan label nama Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Kompromi dan Kejutan Tuhan

Pada awalnya saya mempunyai keinginan kuat KKN di luar Jawa. Upaya itu saya wujudkan dengan mencuri langkah awal dengan menanggapi postingan di sosial media Facebook. Kala itu seorang mahasiswa Teknik menawarkan pembuatan kelompok menuju Banda Neira, Maluku. Saya inisiatif untuk mendaftar. Setelah itu, kembali saya ikuti lini massa sosial media buatan Mark Zuckerberg itu. Di luar dugaan saya diundang untuk membuat tim pengusul ke Banda Neira. Dalam perjalanan, lembaga yang sedang saya nahkodai mengalami sedikit gangguan. Kala itu gangguan cukup serius. Saya pun bersama Dewan Pimpinan Lembaga megadakan rapat. Pada intinya, semua Dewan Pimpinan Lembaga harus siaga di Jogja. Maka dengan kecewa saya mengundurkan diri dari tim Banda Neira, Maluku. Saya berkompromi dengan keputusan lembaga, dan tentu saja berdamai dengan ambisi diri. Hal itu yang membuat saya harus menerima takdir, untuk KKN di ring bagian 1, yakni wilayah Jogjakarta dan sekitarnya.

Saya berkeyakinan, jika sistem pembentukan dadakan atau ploting mempunyai satu kelemahan. Masing-masing anggota tidak saling mengenal. Ia harus merangkai tim dari awal. Secara mendadak dan dengan waktu yg relative singkat. Implikasinya adalah, kelancaran berjalannya suatu tim. Meski begitu, saya tidak perlu, tepatnya tidak ingin membahas tentang struktural tim. Tidak pula perihal manajerial bagaimana tim ini bisa berjalan. Akan tetapi, bagi saya KKN adalah pengalaman batin yang sulit dicari (lagi). Karena ibarat sejarah ia enmaligh –hanya terjadi satu kali seumur hidup. Apabila kita mengulang pun, ‘rasanya’ tidak akan pernah sama. Sungguh. Akhirnya KKN dalam memori kolektif bagi yang mengalami, ia hanya akan menjadi glorious past –sisa kejayaan masa lampau- bagi yang menikmati dan mengambil pelajaran. Di pihak lain hanya akan menjadi ‘mimpi buruk’ bagi yang hatinya berusaha menolak dengan keras. Dan ingin lekas ia hapus dari memori hidupnya.

Bagi babak hidup saya, KKN adalah satu kejutan Tuhan. Wujud kasih bagi saya yang kepalang menyebalkan baginya, mungkin. Saya datang menjadi bagian di KKN adalah bagai satu kain putih. Orang-orang yang asing dengan saya. Tentu tidak mengenal kerangka pikir, dan visi hidup saya. Terlalu jauh itu, karena sampai sekarang pun mungkin tidak banyak yang tahu. Kecuali seorang yang kemudian kisahnya berlanjut pasca KKN. Itu pun harus melalui drama yang cukup pelik untuk diceritakan. Saya KKN di kecamatan Imogiri, tepatnya di Desa Selopamioro. Wilayah yang terletak di selatan Kota Yogyakarta. Tidak jauh dari pusat keramaian memang. Tidak seterpencil Pulau Sangihe, Miangas, atau pun Pulau Rote. Tapi cukup membuat hati bergetar, dengan segala kepingan-kepingan peristiwa yang di luar dugaan. Bagi saya mengutuki dan menyesal tidak bisa pergi (mengabdi) jauh, adalah cara Tuhan dengan memberi kejutan termanis di luar akal rasionalitas saya, yang selalu mencoba menerjemahkan letupan-letupan dalam hidup : dengan cara keluar dari bingkai ilahiah.

Anak-anak Itu Mencintai Saya

Setiap manusia yang berada pada fase kanak-kanak, apabila ia harus pergi dipanggil Tuhan, ia berhak atas kahyangan –surga. Diktum itu setidaknya bukan isapan jempol belaka yang dibuat pemuka agama, atau kitab-kitab dalam agama Abrahamik saja. Saya selalu percaya bahwa anak-anak itu suci. Ia murni, polos, dan selalu lugu. Maka apabila ada yang salah dalam tingkah polahnya, mungkin sekedar dalam bahasa Soekarno –keblinger-, kesalahan itu layak dialamatkan pada orang-orang dewasa. Sebab orang dewasa punya satu tanggung jawab moral akan anak-anak yang tanpa dosa itu.

Perjumpaan saya pertama kali dengan anak-anak di dusun KKN, secara intens dan membekas terjadi di Dusun Kalidadap I. Dusun itu sebetulnya bukan daerah tugas saya. Kala itu saya dihubungi oleh Erlita  Kusuma W. Mbak Tata –sebagaimana ia biasa saya sapa- meminta tolong saya untuk membantu program kelas bahasa Inggris, pada awalnya. Meski begitu acara siang hingga sore itu ternyata bukan hanya belajar bahasa Inggris. Mbak Tata punya ide untuk membawa anak-anak naik ke puncak cemara –salah satu bukit kecil di dusun Kalidadap I. Pemandangan disana sungguh indah. Saya menyaksikan matahari tenggelam dengan malu-malu, diiringi tawa anak-anak yang saat itu langsung mengisi memori di otak saya. Anak-anak itu mungkin tidak bisa diam, bandel, dan terkadang bertingkah konyol. Namun, satu perasaan entah datangnya darimana saya mendadak menaruh simpati, bahkan mungkin sayang.

Perjumpaan kedua dengan kawanan anak-anak KKN, terjadi di dusun Srunggo. Aktor yang menghubungi saya saat itu adalah Raindy Samudera. Saya memanggilnya Mas Rain, mahasiswa Filsafat 2008, bukan karena terpaksa memanggil ‘mas’ sebab dia lebih tua. Tetapi itu adalah bentuk penghormatan saya. Musababnya selama KKN berlangsung Mas Rain seolah menjadi kakak bagi saya. Saya dikontak waktu itu untuk mengisi program kerja yang ia gagas : Sekolah Alam. Dari sana saya kenal anak-anak dusun Srunggo. Sederet nama yang masih tak lekang di ingatan adalah Nia, Winda, Rustam, dan Nando, serta Amat. Bagi nama terakhir ini, saya ingat betul karena ia dekat dengan Sesahayu –orang yang kemudian punya tempat sendiri di sudut hati saya. Sesa selalu menyebut Amat sebagai fotografer pribadinya. Bahkan dia mengunggah hasil karya Amat di akun media sosial instagram miliknya.

Intensitas pertemuan saya dengan anak-anak Srunggo terbilang lebih sering ketimbang di Kalidadap. Setelah mengisi materi di Sekolah Alam, biasanya mereka mempunyai permintaan. Anak-anak itu selalu minta dibelikan es krim. Saya tak dapat mengelak. Dengan sepeda motor matic hitam, mereka biasanya berempat secara bersamaan, membonceng motor saya. Rustam biasa di depan. Sementara Winda, Nia, dan satu anak lagi duduk di belakang. Saya kala itu seolah berperan menjadi bapak dari anak-anak itu. Tapi saya bahagia. Ketika mampu membelikan es krim. Lalu mereka merekahkan senyum, dan tertawa terkebahak tanpa unsur paksaan apapun. Bahagia ternyata sesederhana itu, bagi orang yang mau membuka hatinya pada kebahagiaan yang lahir dari energi positif anak-anak.

Sementara itu, di dusun tempat saya mengabdi, di Kajor Kulon namanya. Entah mengapa menyebut nama Kajor Kulon, seolah ada sesak dalam dada. Tapi itu hal lain untuk diceritakan. Anak-anak seolah memperlakukan saya layaknya Kapten Jack Sparrow dalam film Bajak Laut “Pirates Of The Caribean”. Mereka adalah anak geladak kapal yang setia dan berani. Saya membuat banyak acara bersama mereka. Terkadang hal sepele semisal berburu Pokemon yang saya akses dari gawai pintar –bahasa Indonesia dari Smartphone menurut J.S. Badudu- milik Irriani Sajja (merupakan teman paling tidak bisa diam di Sub Unit Kajor) yang mempunyai pribadi selalu lucu dalam tingkah polahnya.

Pada lain kesempatan kami mengadakan out bound. Saya ikut didalamnya membaur bersama pemuda disana. Kemudian mendekati masa periode ujung pengabdian. Saya mendokumentasikan kegiatan yang kami lakukan. Sambil menyanyikan lagu, dan permainan tradisional saya merekam sebuah video. Bahkan secara khusus album foto yang berisikan potret mereka saya simpan. File itu tertata rapi dalam folder khusus di komputer jinjing saya. Deretan nama anak-anak di Kajor Kulon banyak sekali. Nama anak-anak lelaki yang masih hinggap dalam ingatan adalah Danis, anak dari Pak Widodo seorang perangkat desa Selopamioro. Terdapat juga Kunto –saya biasa menyapanya dengan Kunto Aji. Lalu ada pula Dimas yang sampai sekarang masih menjalin kontak dengan saya. Entah itu sekedar menyapa bertukar kabar, atau pun hal penting semisal meminta doa saat akan Ujian.

Anak-anak yang rutin menyambangi pondokan kami adalah yang perempuan. Tiga serangkai Nabila, Wulan, dan, Vita. Mereka semua dekat sekali dengan Naila. Mahasiswa Psikologi yang gemar mendengarkan keluh kesah kami di pondokan Kajor Kulon. Di Pondokan terdapat lima orang anggota perempuan. Selain Iriani dan Naila, ada Brita dan Nia yang ketika menari senam ‘gemar makan ikan’ kelihatan bak teletubbies. Sisanya ada Yuni yang menjabat sebagai Bendahara Unit. Yuni agak pendiam. Tapi satu hal, Yuni pandai dalam memijat. Ini jangan ditafsirkan pelbagai macam. Pijat yang dimaksud adalah hanya sekedar melemaskan otot-otot, yang tegang selepas menunaikan program kerja. Lalu ada Sumbodo yang didapuk sebagai Koordinator Mahasiswa Unit.

Nabila, Wulan, dan Vita selalu berkonsultasi dengan kami. Terutama untuk diajarkan bagaimana menyelesaikan Pekerjaan Rumah mereka. Saya sering membantu, Naila juga. Kami berdua tidak jarang meladeni mereka. Di lain kesempatan, dan merupakan momen paling epic bagi saya adalah, saya pernah memboncengkan ketiga anak itu untuk mengambil tebu di kajor Wetan. Statusnya adalah tetangga dusun. Akibat mereka terus merengek minta makan tebu. Saya dengan malu-malu meminta izin pada pemilik lahan. Beruntung pemilik lahan mengenali saya berhak arahan Pak Dukuh. Sebetulnya Pak Dukuh lah yang kenal dengan saya. Beberapa kali saya silaturahmi ke rumah beliau. Setelah mendapat tebu, ketiga anak perempuan itu tertawa, dan mengucapkan “Terima kasih mas Bagus ganteng dan baik”. Dalam sekejapan hati saya tersentak. Saya dibuat terharu. Mungkin pula bahagia.

Anak-anak Kalidadap, Srunggo dan Kajor Kulon. Kini masuk dalam babakan sejarah hidup saya. Diam-diam, anak-anak yang tidak ada ikatan biologis dengan saya ini, telah membuat saya empati, bahkan masuk ke fase menyayangi. Saya mendadak cemas. Takut apabila mereka tumbuh dengan pengawasan yang tidak baik. Gelagapan ketika dihadapkan pilihan hidup yang kerap kali rumit. Khawatir akan hak mereka untuk memperoleh pendidikan yang tinggi. Sebab saya percaya, pendidikan adalah kunci untuk orang menjadi mulia. Meski tidak semua. Akan tetapi, saya menaruh harap pada mereka. Supaya suatu saat mereka bisa membuat kedua orang tuanya, meneteskan air mata karena bangga akan pencapaian-pencapaian luar biasa. Sementara kapasitas saya lebih banyak pada sebatas mengirim doa, yang saya jamin itu tulus.

Tabula Rasa

Konsep tabula rasa, sederhanannya begini. Bahwa manusia lahir sebagai mahluk yang kosong. Ia adalah mahluk pra-pengetahuan, pada awalnya. Kemudian ia mendefinisikan dan merumuskan satu perasaan berdasarkan peristiwa yang dialaminya sendiri. Teman psikologi saya mungkin tidak setuju. Itu boleh. Namun bagi saya, konsep itu merupakan pilihan tepat. Bahwa KKN turut mewarnai dan memberi suplai terhadap tabula rasa dalam hidup saya. Kemudian yang paling penting adalah mengembalikan rasa, dan orientasi ‘kedesaan’ saya. Hal itu agar saya tidak teralienasi di ruang hidup saya sendiri sebagaimana Marx sabdakan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s