Rohingya

Ilustrasi-Pengungsi-Rohingnya-681x383

-Sumber gambar dari aktual.com-

Belakangan ini, isu pengungsi Rohingya menjadi perbincangan yang hangat. Baik di media sosial maupun forum-forum di tingkat Universitas. Rohingnya memaksa dunia menoleh pada mereka. Perkara nanti tolehan itu bersambut empati dan simpati, nanti dulu. Karena sebagian juga sepertinya agak ‘ogah’, dan sebagian lagi memilih pura-pura tidak tahu.

Rohingya, secara hukum, adalah warga negara Myanmar (Burma). Meski ras mereka lebih mendekati ras-ras yang ada di Bagladesh. Terusir, karena dianggap tidak sebangsa atau pun alasan yang tidak diketahui, tapi yang pasti mereka tidak diinginkan. Media cetak maupun online, gencar menceritakan bahwa oknum dibalik terusirnya Rohingya adalah para biksu Budha yang memang punya akses langsung dengan pemerintah Myanmar.

Kini, orang-orang yang tak diinginkan itu pun, terombang-ambing di lautan. Kabar burungnya, dari mereka untuk bertahan hidup terpaksa meminum air mani sendiri. Air bersih yang merupakan bahan dasar kebutuhan manusia susah didapatkan. Banyak dari mereka dalam perjalanan mencari tujuan yang tanpa ujung itu terpaksa merenggang nyawa. Negara-negara di kawasan ASEAN pun seolah tidak mau menampung. Mereka langsung memasang kaki untuk siap menendang (bahasa kasarnya seperti itu). Tapi salahkah? Tunggu dulu.

Pemerintah Indonesia -yang masuk kategori mereka ‘yang memasang kaki’ untuk menendang- mengalami posisi yang dilematis. Meski harusnya atas nama kemanusiaan, harusnya bangsa Indonesia, dan patutnya mengulurkan tangan. Tapi kenapa harus cuma Indonesia. Baik, karena mereka (Rohingya) adalah muslim, dan mayoritas penduduk Indonesia juga muslim. Tapi mengapa Malaysia tidak?

Saya kira keputusan Indonesia untuk tidak menanggapi pengungsi Rohingya bukan suatu kesalahan. Secara legal, kedatangan para pengungsi Rohingya ke Indonesia mengapa di halau TNI, karena masalah kedaulatan. Peraturan negara menyebutkan, setiap warga negara asing yang datang ke suatu negara yang dituju mesti mengantongi izin, misal Pasport. Maka dari itu, ihwal pengungsi Rohingnya, apakah sempat membuat pasport? yang bahkan diantaranya datang hampir telanjang. Saya cuma menegaskan TNI secara legal berlaku benar. Sebab, pemerintah pusat, setahu saya memang tidak memberikan instruksi kepada mereka di perbatasan. Jadi posisi Indonesia sebenarnya pun dilematis.

Nalar dan rasio sepertinya membuat nurani tertutup. Sekarang terdapat armada baru, yang siap membela muslim yang terkatung itu. Pembesar Turki, Erdogan, tertatih-tatih dari jauh menawarkan uluran tangan. Pembelaan Erdogan, saya masih ingat “Selama laungan adzan masih terdengar, disitulah tanah airku. Jangan halangan kapal perang kami (Turki) untuk menolong saudara kami”. Sangat herois. Bahkan saya sampai tergetar. Selain Turki, Aceh pun menawarkan bantuan. Mereka mempersilahkan para Rohingya itu untuk singgah. Mengapa Turki? dan ada apa pula Aceh?

Ihwal kedua negara ini, jika diruntut secara Historis memang mempunyai ikatan ‘batin’ yang kuat. Dulu, sekitar abad 16, terdapat jaringan dagang islam yang solid. Jaringan ini kemudian berkembang tidak hanya di bidang perdangan, bahkan berlanjut ke hubungan diplomatis dan penyebaran islam. Kisah lada secupak kiranya bisa memberi gambaran. Isinya, tentang perjalanan Kapal kerajaan Aceh yang mengirimkan persembahan berupa lada yang banyak kepada kekaisaran Usmani. Sayangnya, lada-lada itu hanyut di lautan berbarengan dengan kapal yang tenggelam. Akhirnya, hanya secupaklah yang berhasil sampai di Islambul (Ibu kota Usmani). Persembahan itu merupakan pertanda. Hubungan patron atau klien, bisa jadi. Karena jika tidak salah, Turki pun pernah mengirimkan armada kapal perangnya ke Aceh. Jaringan itu tidak hanya berhenti di Aceh, tapi menyebar di sebagian wilayah Asia lain, terutama di Timur Tengah, dan kawasan India. Jaringan yang sedemikian kuat itu disebut ‘Ummah’. Berangkat dari sini, sangat mungkin jika Turki maupun Aceh tergugah rasa persuadaraan Muslimnya untuk menolong Rohingnya.

Kita seringkali terjebak dalam masalah praktis peraturan, dan itu dirumuskan. Tapi, manusia seringkali lupa bahwa ia manusia, yang tidak boleh kehilangan rasa kemanusiaan. Jika itu hilang apa bedanya dengan hewan? Lantas bukankah manusia pun merumuskan bahwa kemanusiaan berada di atas segala-galanya?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s