Pergulatan Fakta Sebagai Landasan Sejarah

14561866_668899249939336_4692295107100016640_n

-Sumber gambar dari Pictaram.com-

Oleh beberapa sejarawan, fakta acap kali menjadi satu-satunya landasan penelitian sejarah (mutlak). Hal itu tidaklah salah. Akan tetapi yang perlu dicatat, fakta itu merupakan sesuatu yang terus diperdebatkan. Sebab beberapa sejarawan lain, ada pula yang menyangsikan sebuah fakta. Pasalnya fakta memang tidak pernah menyentuh ranah kepastian. Bahkan kerap kali membuat keragu-raguan dalam penelitian sejarah, atau pun masyarakat secara umum. Terlepas dari perdebatan tentang kubu yang saling berbeda pendapat itu : fakta adalah sesuatu yang penting. Fakta merupakan sebuah gerbang menuju pernyataan-peryantaan. Fakta historis adalah alat utama untuk mengajukan sebuah klaim pernyataan pada masa silam -historiografi.

Perdebatan perihal fakta dipetakan menjadi dua kubu. Pertama, mereka yang beranggapan bahwa fakta historis hanya akan menjadi fakta, ketika sudah dikonstruksi atau disusun oleh sejarawan. Sederhananya, fakta historis hanya akan berguna menjadi fakta ketika sudah ada campur tangan sejarawan didalamnya. Kemudian sisanya ‘dianggap’ bukan fakta historis. Dalam artian yang tersisa dari fakta yang tidak disentuh sejawaran, adalah fakta yang diluputkan. Kemudian dimanakah kemudian letak fakta historis itu? Menurut Becker, sebagai upaya menjawab kebingungan dimana letak fakta sejarah, dan bagaimana yang harus dilakukan jika ada fakta sejarah? Semua itu bisa terjawab dengan hadirnya peran sejarawan. Letak fakta sejarah adalah di pikiran sejarawan. Di sisi lain apabila ada fakta sejarah, yang harus dilakukan adalah diskusi tentang sejarah, oleh sejarawan. Dalam bahasa sederhana, sejarawan mengolah masa lalu, dengan ‘rasa’ masa kini.

Kedua, pihak yang berpendapat bahwa fakta historis adalah bahan bakar utama bagi penulisan sejarah. Maka fakta historis harus ditulis apa adanya. Menurut golongan ini, apabila sejarawan terlalu dalam mencampuri fakta, maka fakta akan semakin jauh dari kebenaran-kebenaran. Kerap kali fakta itu, melenceng karena interpretasi-intertpretasi sejarawan. Peristiwa masa lampau yang ‘mendekati kebenaran’ pun terasa semakin jauh. Itu menurut mereka. Sekilas bila diamati, golongan ini sangat ‘Ranke’. Corak tulisan sejarah yang diinginkan pun deskriptif.  Pada tahap ini fakta historis dan interpretasi sejarawan, berupa kritik, deskripsi pribadi, dan komentar-komentar lain hendaknya dipisahkan.

Perdebatan kedua kubu itu merupakan perdebatan perihal sejarah deskriptif dan analitis. Namun menariknya, menurut kelompok Ranke, fakta harus ditulis apa adanya. Sentuhan sejarawan mesti diminimalisir. Akan tetapi ihkwal fakta historis, saya pribadi mengamini Becker, bahwa sejarawan harus turut andil dalam penentuan fakta historis. Jika menurut kelompok Ranke, campur tangan sejarawan hanya akan mengacaukan fakta, saya kira kurang tepat. Fakta sudah kacau sedari dulu. Kiranya kita bahkan luput, bahwa sifat fakta adalah selalu diperdebatkan. Maka dari itu fakta tidak bisa menjadi satu-satunya titik tolak kebenaran. Ankersmit menulis, untuk memberi kualifikasi lain pada fakta, jangan diklaim kebenaran. Akan tetapi diperhalus misal : ‘berguna’, ‘penuh arti’, dan ‘dapat diterima’. Saya kira itu lebih bijak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s