Corak Historiografi pada masa Yunani dan Romawi, serta perbedaannya dengan Abad Pertengahan Eropa

 

1e50034fe9ae916c89b66d171cd85554

-Sumber Gambar Pinterest.se-

Pada periode Yunani – Romawi, pemikiran manusia bebas. Tidak ada sekat-sekat pembatas. Manusia memaknai dirinya secara utuh. Saat itu, manusia mulai mempertanyakan dirinya, eksistensinya, dan Tuhan. Kegemaran mempertanyakan ini pula yang nanti memunculkan sebuah lembaga Universitas (dalam arti asli ; aktivitas bertanya) yang bernama academia, oleh Aristoteles. Dalam pandangan Yunani dan Romawi, manusia adalah aktor utama dalam hidup. Maka segala pemikiran yang berkaitan dengan kebutuhannya sangat masif. Pemikiran yang demikian bebas mempengaruhi berbagai aspek kehidupan. Misal, seni yang berkembang pesat, seperti drama yang mempertontonkan nilai kehidupan, dan manusia secara asli. Kemudian arsitektur yang bagus nan indah, seperti kuil Athena di bukit Acropolis. Dari segi politik, muncul pemikiran tentang Demokrasi (Asal kata demos dan cratos ; arti harfiah pemerintahan rakyat) yang dipelopori Athena. Sistem itu membuat semua rakyat Athena berhak bersuara untuk kelangsungan hidupnya. Suara mereka diwakili para dewan rakyat.

Selain seni dan arsitektur, dan politik, pemikiran Yunani – Romawi pun menyentuh aspek pengetahuan, tak terkecuali dalam penulisan sejarah. Sebab, masa sebelum Yunani- Romawi, penulisan sejarah hanya disanggap sebagai tradisi tulis atau kesaksian saja. Periode ini beperan penting dalam ‘pengilmuan’ sejarah (Hughes – Warrington, 2008 ; v-vi). Hingga akhirnya muncul historiografi setelah itu. Maka, kondisi masa itu, secara tidak langsung membentuk pula karakteristik historiografi. Pada periode Yunani-Romawi ada beberapa karakter yang dapat dianalisis. Pertama, pemikiran ide ide sejarah cenderung spekulatif. Banyak fakta-fakta yang belum diverifikasi. Munculnya adalah sejarah yang penga-andai-an. Kondisi seperti itu dalam dimaklumi. Sebab, saat itu, tatanan metodologi belum mapan. Kedua, pandangan Yunani-Romawi, akan gerak sejarah adalah berjalan seperti laiknya roda. Pelbagai peristiwa akan terus berulang dan berulang. Sebagaimana roda yang berputar untuk mengganti sebuah siklus. Pandangan lain, tentang gerak sejarah masa itu, adalah spiral (Hughes-Warrington, 2008, vii). Yakni, sebuah peritiwa pola yang maju akan terus kembali ke bentuk mula. Namun, terdapat kemajuan dalam pandangan spiral ini ketimbang gerak sejarah yang diibaratkan seperti roda. Ketiga, ciri sejarah masa Yunani-Romawi, adalah sejarah masih tercakup dalam lingkup politis dan militer.

Tokoh penting dalam historiografi pada masa Yunani dan Romawi adalah Herodotus (484 – 424 SM) dan Thucydides (460 – 400 SM). Mereka berdua telah membangun Sejarah sebagai ilmu. Herodotus berperan dalam menyumbangkan karya sejarah naratif pertama. Karya itu adalah Histories. Meski begitu karya itu dihujat karena dianggap tidak valid. Karena, ia (Herodotus) memasukan semua sumber informasi. Tidak ada filter (pemilihan) dan klarifikasi dalam karyanya. Celakanya lagi, karyanya kemudian disebut karya yang dusta. Terlepas dari itu semua, apresiasi yang tinggi patut diberikan pada Herodotus. Sisi positif yang pada pemikiran Herodotus adalah, kepiawaiannya dalam menggabungkan berbagai unsure. Seperti geografis dan etnologi. Dan hal seperti itu, pada masa itu, tidak berkembang pada orang lain sezaman. Herodotus merupakan unggulan pada zamannya. Dan meruapakan Sang Pemula. Karya Herodotus yang paling masyhur adalah Histories. Karya ini menceritakan tentang Perang Persia dan Yunani. Kemudian terdapat pula penyerbuan Xerxes, Raja Persia.

Di sisi lain, Sejarawan yang berpengaruh selanjutnya adalah Thucydides. Jika Herodotus berpengaruh untuk penulisan sejaraf naratif pertama, Thucydides berjasa dalam pengembangan sejarah menuju keilmuan. Sebab, Thucydides mengenalkan tentang pentingnya verifikasi (kritik sumber). Menurutnya, sejarawan, dalam melakukan penelitian mesti membedakan sumber. Tujuannya agar tidak terjebak dalam ketidak validan. Maksud dari Thucydides adalah agar memperoleh karya yang benar-benar utuh. Karya Thucydides yang paling berpengaruh adalah History of Peloponesian War. Kemudian karya lain adalah History.

Menurut Fransesco Petrach (1304-1374), abad pertengahan bermula dari abad 4 M sampai 14 M. Periode ini merupakan masa penghubung dari zaman kuno menuju zaman modern. Kondisi sosial pada abad pertengahan sangat terkekang. Pengaruh dan dominasi gereja menguasai segi sosial, politik, bahkan pemikiran. Konsep-konsep teologi menyebar sangat masif. Pemikiran yang berkembang, manusia adalah objek Tuhan (Ilahi) Maka, ia harus patuh dan membaktikan diri pada Tuhan (Gereja). Unsur gereja menguasai hampir sendi kehidupan, bahkan pendidikan. Tidak heran pada masa itu hanya ada satu bentuk sistem institusi pendidikan, yakni model monastic (biara). Akibatnya, transfer ilmu yang terjadi juga masih belum keluar dari bingkai ketuhanan.

Kondisi seperti itu, turut mempengaruhi penulisan sejarah. Karakter historiografi saat itu adalah, Pertama, Historiografi yang terbentuk memuat unsur-unsur dogmatis. Artinya, pemikiran masih berdasarkan Kitab Suci (Alkitab), dalil kenabian, dan kultus ketuhanan menjadi pondasinya. Penulisan sejarah selalu tertuju, dan bertujuan untuk melegitimasi bingkai ketuhanan, dalam hal ini lembaga gereja. Kedua, Historiografi yang ada memuat unsur elitis. Mereka yang masuk dalam penulisan sejarah adalah golongan elite bangsawan. Cerita dan topic yang keluar, berupa kehidupan para elitis tersebut. Ketiga, gerak sejarah menurut abad pertengahan adalah lurus vertical ke atas, yakni langsung berhubungan dengan Tuhan. Keempat, Historiografi masa ini, cenderung normatif. Berisi tentang pesan-pesan kebaikan dan pengabdian kepada Tuhan. Karya-karya abad ini menunjukan bagaimana seharusnya manusia bersikap. Dan bagimana mencapai unsur untuk menuju kesholehan.

Tokoh yang paling berpengaruh pada Abad pertengahan adalah St. Agustinus. Pemikirannya, adalah sejarah merupakan salah satu aspek dari ciptaan Tuhan, termasuk didalamnya hidup dari seluruh umat. Sebagai sebuah karya, sejarah memiliki awal dan akhir. Singkatnya, menurut Sri Margana “[s]ejarah memiliki asal-usul, tujuan dan bergerak secara linier progresif ( Hughes-Warrington, 2008, viii). Karya Agustinus yang paling terkenal adalah City Of God. Berkenaan tentang kerajaan Surga dan Neraka. Dalam bukunya, ia ingin menyampaikan, sejarah tak ubahnya adalah sebuah pertarungan antara yang baik dan buruk. Kekuatan baik diwakili oleh Surga, dan Buruk oleh Neraka (Civitas Dei Civita Eterna).

 

Sumber dan Referensi :

Hughes, Marnie – Warrington, 50 Tokoh Penting Dalam Sejarah, Pustaka Pelajar, (Yogyakarta, 2008)

Lubis, Nina, Historiografi Barat, Alqa Print Jatinanor, (Bandung, 2000)

Magnis-Suseno, Franz, Pijar-Pijar Filsafat, Kanisius, (Yogyakarta, 2005)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s