Tags

, , , ,

@imgrum.net

@imgrum.net –

Lantai dua toko buku Toga Mas Jalan Affandi Yogyakarta, terlihat masih sepi. Hanya ada beberapa kursi yang terisi. Karpet yang digelar untuk lesehan pada bagian depan pun masih sangat lenggang. Saya kemudian duduk di karpet bagian depan. Tepat menghadap meja pembicara. Sabtu malam, 6 Januari 2014, memang akan diadakan diskusi kumpulan cerpen Martin Aleida yang berjudul Mati Baik-Baik, Kawan. Martin pun hadir tepat waktu selaku pembicara. Bukan saja Dosen IKJ itu yang menjadi pembicara, namun pengamat sastra, Katrin Bandel dan Romo Baskoro pun ikut ambil bagian. Acara dimulai tepat pukul 20.00 WIB. Terlambat satu jam dari jadwal seharusnya. Diskusi ini digagas oleh Social Movement Istitute (SMI).

Martin Aleida mendapat giliran berbicara pertama dari pihak pembicara. Tidak ada yang spesial dari pembicaraan Martin. Mantan anggota Lekra ini, lebih banyak bercerita pengalamannya. Alih-alih berbicara teoritis yang memusingkan. Saya kira, Martin malam itu seperti memicu sesuatu yang lama sekaligus baru. “Pasca tragedi 65 bagi kami (orang-orang yang dituduh PKI) adalah bagaimana cara bertahan hidup sesudahnya” kata Martin. Kehidupan pasca tragedi 65 memang sangat banyak disinggung di pelbagai karya. Akan tetapi masih minim yang bercerita mengenai orang-orang yang berhasil bertahan. Lebih banyak para sejarawan ataupun Indonesianis berkutat pada tataran mereka yang menjadi korban. Mereka yang telah tiada. Bahkan ada yang masih berkutat pada perdebatan berapakah jumlah korban sesungguhnya? Sungguh menguras waktu. Tingkat kebaruan, sebenarnya ada pada pengalaman saya sendiri. Ketika Martin bertutur ihwal perjuangannya saya merasa tersentuh. Terdapat satu ikatan emosional didalamnya.

Satu ilmu penting dari penuturan Martin malam itu, katanya “[d]alam menulis sebuah cerpen, atau apapun kau tidak akan pernah bisa menulis. Tulisanmu tidak akan bernyawa. Jika kau tidak turun langsung memahami korban”. Maksud Martin adalah metodenya dalam penulisan cerpen karyanya. Sebuah ajakan pula untuk kami yang hadir saat itu. Untuk menuliskan kisah seseorang, korban tragedi 65 misalnya, kau harus turun langsung. Bercumbu dan menyatu dalam kehidupannya. Mengikuti segala lakunya tiap hari. Cara makan, bagaimana ia tidur, dan menyelesaikan serta memandang suatu permasalahan hidup. Supaya penulis dapat merasakan peperangan batin dan penderitaan emosional di dalamnya. Lagi pula, pesan Martin memang ditunjukkan untuk kami, untuk kita semua. Berhubung Martin mengalami langsung prahara 65 dan peristiwa-peristiwa ketidakadilan selanjutnya, oleh Orde Baru. Metode ‘turun langsung ke bawah ini’ ia dapat ketika masih berkecimpung di Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Buah dari metode semacam ini adalah sebuah penghayatan yang total dan dalam.

Lebih jelasnya, pembuktian metode ini ada pada buku Mati Baik-Baik, Kawan. Martin tidak hanya sekedar bercerita. Tetapi mencoba merekonstruksi sejarah. Ia membuat pembaca tidak sekedar menikmati sebuah alur kisah, namun sekaligus mencoba memahamkan perihal kisruh 65 yang sangat membingungkan. Terlepas dari konflik politik yang memanas di kancah nasional, terdapat individu-individu yang terkena imbas luar biasa dalam kehidupannya. Martin memilih ruang-ruang privat para korban untuk digali. Menjadi unik ketika konsep yang dipilih adalah kematian. Gagasan Martin adalah dalam tragedi 65 para korban bahkan tidak bisa menikmati kematian secara wajar. Ia berefleksi pada mereka yang ‘dibantai’ pada kurun waktu 65-66. Mereka yang dituduh PKI. Bahkan untuk menikmati kematian secara wajar pun, rasanya sangat susah. Kematian yang Martin maksud adalah ia (kematian) sebagai peristiwa sosial. Sebab ketika kita membenturkan makna kematian pada masing-masing orang, definisi yang muncul beragam. Persepsi akan kematian yang baik-baik pun demikian. Kematian sebagai peristiwa sosial ketika mencapai level baik -bagi Martin dan Katrin Bandel pun mengamini itu adalah hal-hal yang berlaku di masyarakat. Kebaikan mati, jika diukur dalam perspektif sosial -misal mati diiringi doa, tahlil, dan diantar menuju liang peristirahatan terkahir.

Martin memunculkan kematian sebagai konsep perlawanan. Konsep itu muncul di cerpen pertama, Mangku Pergi ke Daratan Jauh. Ia melakukan perjalanan dari Bali menuju Lampung. Sayangnya ketika sampai di Lampung, seekor Kera yang merupakan sahabat perjalanannya, mati digigit anjing rabies. Ia pun menguburkannya sambil mengucapkan lirih, “Mati Baik-Baik, Kawan”. Kematian Kera milik Mangku merupakan suatu perlawanan. Mangku ingin menunjukkan bahwa hewan pun layak menjalani kematian yang pantas. Mengapa manusia tidak? Lagi pula kematian itu pun seolah menyiratkan harapan pemiliknya, Mangku, keinginan untuk mati yang baik-baik. Saya tak hendak mendedah cerpen satu-persatu yang tertulis dalam buku Mati Baik-Baik, Kawan itu. Anda mungkin akan menemukan hal yang berbeda ketika membaca. Sangat tergantung dengan penghayatan. Tidak ada penghakiman atas salah penafsiran dari pembacaan, semua benar, sebagaimana yang dikatakan Martin malam itu.

Karya Martin agaknya lebih baik, menurut saya, ketimbang aliran sastra wangi yang akhir-akhir ini muncul. Larung karya Ayu Utami, misalnya. Larung memang berpijak pada peristiwa 65 sebagai latar belakang. Menceritakan Larung yang lahir sebagai anak Gerwani. Meski begitu, Ayu tidak mengenyahkan stigma dalam masyarakat tentang ‘kutukan’ bahwa PKI itu buruk sebagaimana yang diciptakan Orde Baru. Dalam sebuah halaman, Ayu hanya menulis “Gerwani tidak menyilet para Jenderal!”. Ungkapan itu, hanya akan membela Gerwani secara organisasi. Sebab faktanya, orang awam sangat rancu dalam memahami hubungan PKI dan organisasi (yang dituduh) afiliasinya.

Berangkat dari karya-karya yang mencoba memunculkan tragedi 65 sebagai sebagai latar. Katrin Bandel membagi jenis sastra yang demikian menjadi tiga. Pertama, karya yang hanya menjadikan tragedi 65 sebagai pijakan. Meski begitu isinya tetap memojokan mereka yang diduga PKI. Karya macam demikian itu sangat marak muncul di era Orde Baru. Bahkan saya ingat ketika kampung buku Jogja 2015. Arswendo Atmowiloto menulis sebuah buku yang saya lupa judulnya. Pada sub bab yang ia tulis saya cermati. Isi sub bab buku itu saya masih ingat jelas, antara lain begini : Kebiadaban di Rumah M.T. Haryono, Kebinatangan di Kediaman D.I. Panjaitan. Ironisnya, Arswendo pula yang menulis salah satu komentar di buku Martin. Sementara itu ia tampil berbeda ketimbang buku yang ia tulis, dulu.

Aliran kedua, Katrin memberi gambaran, berupa karya yang hanya memunculkan rasa kasihan pada korban tragedi 65. Rata-rata berbentuk memoar dan kesaksian. Tokoh yang kerapkali muncul adalah, mereka (korban) yang tidak menahu perihal komunisme. Mereka hanya diceritakan sebagai korban yang harus dikasihani. Karya semacam itu, bagi saya pun, tidak menggusur adagium anti PKI. Sebab tidak mencoba mengeksplorasi fakta-fakta yang demikian tersembunyi. Aliran ketiga, adalah yang paling maju dari kedua macam gaya sebelumnya. Karya ketiga ini, tidak hanya sastra yang dapat dinikmati alur saja. Lebih dari itu berperan sebagai pendobrak dalam kemajuan sejarah. Pemasukkan fakta-fakta sejarah yang telah digali itu kemudian diakumulasikan dengan emosi pribadi. Maka dari itu tidak hilang rasa kemanusiaan yang ingin disampaikan.

 

Lantas kau akan menulis aliran yang mana?

Advertisements