March Bloch

March Bloch

-sumber gambar dari smithsonianmag.com-

Tidak banyak tokoh yang mempunyai pengaruh yang mengakar dalam sebuah disiplin ilmu. Ia mesti dan dituntut memberi sebuah terobosan, sudut pandang baru, atau pun penawaran yang rasional dalam bidang ilmu tersebut. Lebih dari itu, ia yang akan mempunyai pengaruh mengakar adalah, pemikirannya harus diikuti oleh para akademis sesudahnya, diterima setelah dikaji dan, karena pemikiran itu punya daya tawar rasio yang masuk akal. Maka dari itu, sosok March Bloch, merupakan salah satu dari para pemikir, dalam bidang sejarah yang mempunyai pengaruh kuat. Bahkan, tidak bisa dipungkiri, pemikiran March Bloch merasuk dalam historiografi kita, di Universitas Gadjah Mada. Pengaruh March Bloch pun, dengan mazhab Annalesnya menyebar ke ranah Amerika. Mereka (sejarawan Amerika) mengakui kepenulisan sejarah sosial Bloch, menjadi penting. Mereka pun meletakan kehormatan terbesar sebagai pelopor sejarah sosial kepada sarjana-sarjana Prancis, terutama yang mendapat pengaruh Bloch. (Kuntowijoyo, 2003 ; 39)

Dalam pembahasan tentang March Bloch, saya membagi tiga sub bahasan. Pertama, ihwal biografi, yang memuat berkenaan dengan latar belakang keluarga, jejak akademis dan kehidupan pribadi March Bloch. Kedua, adalah pemikiran-pemikiran dan sumbangsih March Bloch dalam hisoriografi. Termasuk di dalamnya pengaruh mazhab Annales. Ketiga, karya-karya March Bloch yang banyak menjadi rujukan.

March Bloch merupakan sosok yang cemerlang, bergerak di dua bidang. Tataran akademis dan ranah politis. Ia adalah sejarawan genius, namun di sisi lain sisi, sebagian besar hidupnya pun digunakan untuk membebaskan Prancis pada saat Perang Dunia II. Akan tetapi, kita akan berfokus pada figur March Bloch sebagai seorang akademisi, dalam hal ini sejarawan.

Sejarawan Prancis ini lahir di Lyon pada 6 Juli 1888. Ayah dan Ibunya merupakan sejarawan Roma terkemuka, yakni pasangan suami istri Gustave Bloch dan Sarah Einstein Bloch (Marnie Hughes Warrington, 2008 ; 16). Bloch dibesarkan di Paris, kota dengan intelektual yang tergolong baik, saat itu. Jejak akademis Marh Bloch bermula ketika ia masuk Lycee-Louis-le-Grand di Paris. Kemudian, pada 1904, ia mengambil konsentrasi pembelajaran sejarah dan geografi di Ecole Normale Superiure. Lalu ia pun pernah mengenyam pendidikan di University of Berlin. Selain belajar di perguruan tinggi, ia kerap kali mengambil kursus di lembaga-lembaga pendidikan lain, misal, Ecole des Hautes Etudes dan College-college Prancis yang mempunyai cabang di Athena dan Roma.

Karirnya sebagai akademisi kian terlihat. Setelah ia diangkat menjadi Profesor di Fakultas Sastra di Lyons. Tidak cukup sampai disitu, ia juga diangkat sebagai guru besar sejarah Romawi di Sorbonne pada 1904, lalu di Montpellier (1921), di Amiens (1913), dan di Straussborg (1921). (Dr. Nina Lubis. 2000 ; 93-94) Kapakaran Bloch, dalam bidang sejarah memang pada mulanya mempunyai lingkup di sejarah Romawi. Setelah pertemuan dengan Lucian Febvre, arah kajian Bloch mulai berpindah haluan, menuju ke arah  sejarah sosial.

Sementara itu, perihal kehidupan keluarga March Bloch. Ia menikah dengan asisten sekaligus sekretaris pribadinya, Simone Vidal, pada 1919. Karir akademis yang terkesan mulus, berbanding terbalik dengan kehidupan Marh Bloch sebagai propagandis politis. Ia gugur pada saat rezim Hitler menguasai Prancis. Ihwal kematiannya sebagaimana dikutip dari Braudel “[I]a melarikan diri melalui Dunkirk. Disana ia tinggal beberapa lama. Akan tetapi pada 8 Maret 1944, ia bersama teman-temannya ditangkap Gestapo. Berselang beberapa bulan, ia kemudian ditembak oleh pasukan Hitler, hanya beberapa hari sebelum Hitler menyerah” (Braudel, 1977 ; 92-94 dalam Dr. Nina Lubis 2000 ; 96). Menariknya, sebelum ia ditangkap kemudian ditembak, ia sempat menuliskan sepucuk surat pada koleganya Lucian Febvre, berisi rasa kecewanya karena telah salah mengambil risiko menjadi akademis cum propagandisSurat itu bertanda 17 September 1939 (ketika Perang Dunia II mulai pecah) “[S]aya seharusnya menghindarkan diri dari tugas sebagai propagandis. Para sejarawan harus menjaga tangannya tetap bersih”.

Pemikiran dan Kontribusi March Bloch pada Historiografi

Pemikiran berangkat dari keresahan. Dan pula, bertolak dari pengamatan empiris kondisi di sekitar. Bagi ilmu-ilmu sosial, lahirnya pemikiran baru, acap kali, karena suatu teori yang mendominasi pada zamannya, dianggap telah usang, dan tidak bisa mendedah permasalahan yang ada. Begitu pula dalam penulisan sejarah (Histotografi). Terdapat dua poin besar yang membuat resah March Bloch, yang kemudian nantinya melahirkan historiografi alternative. Pertama, pada sekitar akhir abad 19, historiogarfi Eropa saat itu, didominasi oleh Jerman. Corak dari historiografi Jerman adalah militeristik dan politis. Sejarah hanya berada tataran elite. Tema yang muncul pun berkisar antara perang dan perpindahan kekuasaan, atau transisi antar rezim. Corak seperti ini, seolah tidak memberi ruang bagi yang disebut “orang-orang tanpa sejarah” untuk berperan. Lalu, ia pun melupakan aspek-aspek yang lain, misal ranah sosial. Kedua, ilmu-ilmu sosial saat itu sudah berkembang pesat. Akan tetapi, sejarah masih berkutat pada tataran naratif-deskriptif. Perlu adanya sejarah yang analitis.

March Bloch, memberikan sebuah penawaran bagi jalannya historiografi. Pertama, menurutnya, sejarah tidak berkisar seputar orang-orang besar, maupun perang. Akan tetapi, misal, sosial, ekonomi, agraris, interaksi antar manusia, dan pedesaan pun berhak menjadi fokus penting dalam kajian historiografi. Penawaran topik-topik baru itu, merupakan wujud dari pada dominasi sejarah politik dan militer. March Bloch mewujudkan pemikirannya itu, dalam bahasannya perihal feodalisme Eropa. Ia mengungkapkan sistem agraris pun berperan, terutama dalam pembentukan landasan sistem feudal serta susunan masyarakat. Dari kajian ini, kemudian berkembanglah sejarah agraris, sosial dan ekonomi (Kartodirdjo, 2014 ;52). Hal ini menunjukan kajian kajian, non-politik juga sangat menarik. Dimensi-dimensi yang sebelum Bloch, tak tersentuh.

Sumbangsih March Bloch Selanjutnya adalah, penggunaan ilmu-ilmu sosial sebagai cara untuk menjelaskan suatu fenomena sejarah. Menurutnya, sejarah yang deskriptif-naratif, menjadi tidak memuaskan untuk menjelaskan permasalah, atau gejala yang kompleks. Sebabnya, karena ilmu sejarah terlalu miskin teori untuk mendedah permasalahan-permasalahan tersebut. Teori-teori yang bisa digunakan adalah teori ilmu-ilmu sosial lain, misal, ekonomi, sosiologi, atau antropologi. Maka yang bisa dilakukan oleh ilmu sejarah, adalah meminjam teori-teori ilmu lain, dengan cara approach (pendekatan). Maka dari itu, pendekatan multidisipliner ilmu dalam kajian sejarah menjadi penting. Mengingat ilmu-ilmu sosial pada zaman itu, mengalami perkembangan yang cukup pesat. Hal itu merupakan suatu yang relevan untuk mewujudkan analisis historis. Berkenaan dari itu, Sartono Kartodirdjo pun, mengamini apa yang dilakukan oleh Bloch, ia menambahkan pula, mengapa sejarah memerlukan ilmu-ilmu bantu sosial yang lain. Lagi pula, kata Sartono “[S]tudi sejarah tidak terbatas pada pengkajian hal-hal informative tentang apa, siapa, kapan, dimana dan bagaimana. Tetapi juga ingin melacak pelbagai struktur masyarakat, pola, kelakuan, kecendrungan proses dalam pelbagai bidang, dan lain-lain. Kesemuanya itu, menuntut adanya alat analitis yang tajam dan mampu mengeksplorasi fakta, unsur, pola dan sebagainya.” (Kartodrdjo, 2014 ; 136-137).

Wujud karya March Bloch berkaitan dengan pendekatan ilmu-ilmu sosial bagi sejarah adalah risetnya tentang sejarah pedesaan, di berbagai negeri di Eropa Barat. Dalam penelitiannya diungkapkan gambaran serta pengertian baru tentang kondisi kehidupan pedesaan di masa lampau. Gambaran itu antara lain, hubungan antara tuan tanah dan petani penggarap, kedudukan bangsawan di pedesaan, pungutan-pungutan, soal-soal demografis seperti angka mortalitas dan natalitas, naik turunya harga dll. Lantas, perkembangan produksi petanian mendapat sorotan, dan peristiwa-perisiwa yang mempengaruhi desa tersebut, seperti perang, pergantian cuaca dan iklim, curah hujan, atau pun kegelisahan sosial. Untuk memperoleh informasi detail tentang hal-hal itu, maka sangat dibutuhkan untuk bekerja sama dengan interdisipliner ilmu, misal ahli ekonomi, antropologi, sosiologi, maupun demografi. (Kartodirdjo, 2014; 218). 

Annales

Puncak tertinggi pemikiran March Bloch, dituangkan dalam Jurnal Annales-Annales d’histoire Economique et Sociale. Jurnal itu terbit pada 1929 dengan bekerja sama dengan Lucian Febvre. Gagasan-gagasan March Bloch, seperti penawaran historiografi yang baru dan idenya tentang menggunakan ilmu-ilmu sosial sebagai ilmu bantu sejarah tercetak dalam Annales. Maka Annales adalah wujud konkret buah pikiran March Bloch. Dari Jurnal ini, kemudian berkembang mazhab Annales yang tersohor itu. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s