Ilusi Stabilitas

Ilusi

– Sumber gambar dari Feed.id-

Saat pemerintah Orde Baru berhasil -meminjam bahasa Ricklefs- ‘diciptakan’, pemerintah itu menyusun sebuah ilusi stabilitas. Ilusi berarti adalah angan-angan atau khayalan. Di permukaan terlihat baik-baik saja, namun apabila dicermati lebih dalam akan ditemui sesuatu yang ganjil. Di sisi yang lain, stabilitas juga berarti keseimbangan. Dalam pandangan Orde Baru berarti negara yang aman tenteram dan ‘tidak berisik’. Ilusi stabilitas adalah pengkondisian semua informasi dengan berbagai simbol dan makna kepada warga negara, sehingga yang sampai adalah hal yang baik-baik saja. Misal, informasi tentang pencapaian dan prestasi yang dicapai pemerintah. Kondisi yang demikian agar warga negara percaya bahwa negara berada dalam keadaan baik-baik saja. Sehingga tidak ada protes.

Pemerintah Orde Baru, mencapai ilusi stabilitas dengan berbagai cara. Pertama, memonopoli semua media. Media adalah alat utama rakyat untuk memperoleh informasi yang penting. Apalagi pada periode 70an sampai 90-an. Bisak dikatakan, semakin banyak media, maka alternatif untuk memilah informasi menjadi banyak pilihan. Akan tetapi jika media dimonopoli satu golongan, maka informasi yang diperoleh jadi sempit. Warga negara semakin susah untuk memverifikasi kebenaran berita. Untuk yang terakhir ini yang digunakan pada masa Orde Baru. Berita yang beredar berkisar pencapaian swasembada dan prestasi-preastasi lain seperti kemenangan kontingen Olah raga Indonesia dalam Sea Games atau Pesta Olah raga lain. Lebih jauh lagi, media televisi, terutama dalam acara ‘Dunia Dalam Berita’, kerap kali variasi berita berkutat pada kunjungan yang dilakukan presiden. Kemudian proyek-proyek pembangunan yang juga diresmikan presiden. Media pun turut membantu jargon jargon pembangunan pemerintah.

Adapun, untuk menangani media lain yang tidak selaras dengan prinsip pemerintah (baca : pemberitaan positif keberhasilan Orde Baru) maka akan dibredel. Beberapa media yang terkena salah satunya adalah Tempo. Majalah ini, dicabut izin terbitnya karena memberitakan pembelian kapal bekas dari Jerman oleh Menteri Habibie pada medio 90-an. Tentu pemerintah tidak senang. Sebab, pembelian itu bisa menurunkan harga diri pemerintah di mata rakyat. Ciri lain ilusi stabilitas adalah wilayah kebobrokan negara jarang sekali disentuh oleh media. Negara memproteksi sangat ketat. Misal, korupsi, kolusi dan, nepotisme yang dilakukan pemerintah. Rakyat pun buta akan hal semacam itu.

Kedua, pemunculan simbol-simbol dan kebijakan. Terkait pemunculan simbol-simbol itu terwujud dalam bangunan. Pembangunan yang dilakukan Orde Baru, bernilai dua sisi. Di satu sisi merupakan kewajiban negara namun di sisi lain merupakan sebuah alat ilusi. Rakyat dibutakan dengan permasalahan lain. Misal saja, pelanggaran HAM, seperi Petrus, kasus DOM Aceh, dan Timor-Timur, serta tentu saja peritiwa 65 dan 66. Masalah pemunculan simbol diwujudkan pula dengan kewajiban pengecatan dinding berwarna kuning. Bagi semua instansi pemerintah, mulai dari gedung sekolah sampai kantor pemeritahan. Kemudian, pewajiban seragam bagi semua pegawai. Keduanya itu merupakan sebuah monopoli negara untuk membentuk kesan tertentu pada warga negaranya. Dari situ kesan yang terbentuk adalah, keharmonisan dan keselarasan. Hasilnya, ilusi stabilitas pun berhasil.

Dua cara itu, merupakan sedikit dari cara yang dilakukan pemerintah Orde Baru untuk membentuk citra aman (yang palsu) pada warga negaranya. Akan tetapi tetap saja ‘koreng’ Orde Baru terlihat pula, meski menjelang akhir masa keruntuhannya. Misal saja, hutang luar negeri, inflasi, ekonomi yang merosot tajam, dan berbagai pelanggaran HAM. Meski begitu, sebuah apresiasi patut dilakukan, ilusi stabilitas berhasil menipu warga negaranya hampir 32 tahun.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s