Tags

, , ,

@movies.disney.com.au

@movies.disney.com.au –

Memasuki semester enam ini, entah mengapa akhir-akhir ini saya mempunyai kebiasaan unik. Ketika waktu senggang saya akan memilih pulang ke kos. Mengunci pintu kamar dan istiqomah memandang laptop. Ketika sore biasanya akan sampai maghrib. Sementara kala waktu senggang kebetulan ada pada malam hari, saya bisa begadang sampai subuh. Sayangnya percumbuanku dengan laptop bukan untuk suatu hal yang sedikit produktif, namun sekedar nonton film.

Kali ini saya baru saja menamatkan Inside Out. Film yang baru pertama kali saya tonton ini mempunyai gagasan yang unik. Inside Out berusaha merasionalkan fenomena emosi yang ada pada manusia. Dulu mungkin kita beranggapan bahwa emosi atau pun rasa adalah hal yang tak terjangkau. Ia absurd dan tidak bisa dijelaskan. Meski begitu Inside Out berusaha menggoyang kemapanan tersebut.

Gagasan merejetkan kerja-kerja alam-termasuk emosi yang ada pada manusia- adalah implikasi daripada pemikiran rennaissance. Sebelum abad pencerahan datang. Dunia penuh dengan takhayul. Manusia mudah sekali percaya pada hal-hal yang irasional. Ia tidak pernah keluar dari bingkai Ilahiah. Hal tersebut membuat manusia tidak berkembang. Setidaknya itu menurut para pemikir rennaissance macam Galileo dan kawan-kawan. Maka bagi orang yang mengimani zaman pencerahan, abad sebelumnya adalah kegelapan.

Dalam Inside Out, ada lima tokoh yang mewakili emosi manusia. Masing-masing adalah Joy representasi dari kebahagiaan, Sadness lambang kesedihan, dan sisanya jijik, marah, dan takut. Tiga terkhir itu saya lupa namanya. Kelima tokoh ini bekerja menurut porsinya masing-masing seharusnya. Meski begitu pada perkembangannya Joy berusaha menghegemoni atas semuanya. Joy menginginkan manusia yang pikirannya mereka tempati itu, selalu berada pada perasaan bahagia. Maka hal paling logis adalah menyingkirkan Sadness.

Kendati demikian, dari Inside Out saya jadi belajar beberapa hal. Bahwa sebetulnya untuk menjadi manusia tidak melulu harus selalu bahagia. Terkadang kesedihan perlu dilewati dalam satu fase. Mungkin itu yang orang-orang bilang menjadi lebih dewasa. Manusia adalah akumulasi dari pelbagai macam perasaan. Beruntunglah bagi yang masih bisa merasa : sedih, iba, simpati, empati. Kamu masih manusia.

Hal lain adalah ketika melihat bola-bola memori dalam Inside Out saya terbayang diri sendiri. Memori dalam hidup 20 tahun mana yang masih bisa saya raba. Kebersamaan bersama Kakek Abu, momen perpindahan dari Tarub ke Slawi, tiga kali harus mengantar kakek, dan dua nenek ke peraduan terakhir sebelum kelas lima SD, dan dikejar-keja Abah karena tidak belajar Madrasah. Mungkin banyak juga yang hilang. Tetapi saya harap bukan cuma saya saja yang menjaga memori. Saya harap orang yang pernah bersinggungan dengan saya pun demikian. Saya tidak mau bermartubasi memori sendirian. Rasanya sunyi jika tidak ada tempat berbagi.

 

Advertisements