Setya Novanto Manusia ‘Ideal’ Indonesia

setya-novanto-mundur

 

Saya kira kelakuan Setya Novanto (SN) dalam kasus papa minta saham, adalah hal yang kurang ajar sekaligus wajar. Maklum, kebutuhan perut SN ternyata lebih menggebu daripada citranya sebagai Ketua DPR. Meskipun dalam pandangan saya, dari dulu, ia sudah tidak memiliki citra. Satu-satunya hal yang patut dibanggakan adalah pipinya yang chubby nan menggemaskan itu. SN terbukti mencatut nama Jokowi selaku Presiden. Kepentingannya adalah untuk sedikit dapat limpahan ‘receh’ dari perpanjangan (renegosiasi) kontrak Freeport. Laku yang demikian membuat sang Presiden geram. Tetapi bukan saja kepala negara cum pemerintahan itu yang gemas akibat ulah nakal SN. Sudirman Said (SS) selaku Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pun ikut pura-pura gemas. Aksi kepura-puraan SS, menyulap ia menjadi pahlawan dadakan. SS menyeret SN ke pangadilan. Sampai akhirnya kita tahu, hal itu berakhir dengan ketidakmujuran SS.

Kendati begitu bukan saudara SS yang bakal ada dalam coretan kecil saya ini. Tetapi saudara SN. Kelakuan SN yang mencari untung lewat ‘proyekan’ Freeport sungguh kebangetan. Meski begitu saya berbaik sangka. Mungkin SN kurang uang untuk membelikan kaset Qasidah istri, atau mungkin kekurangan dana untuk membiayai anaknya yang bersekolah di kuil Shaolin. Sungguh mulia sosok SN dalam menunaikan tugas sebagai kepala keluarga. Gaji DPR yang dibawah UMR memang menyusahkan SN dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, rupanya.

Meski begitu, jangan buru-buru menghujat. Sebab SN lain pun banyak. Tentu. Pun manusia semacam ini telah ada jauh, bahkan pada masa awal negara ini mulai ajar berjalan. Perselingkuhan antara elite politik dengan pengusaha merupakan hal yang cukup purba. Kalau boleh meminjam istilah seseorang yang saya lupa namanya, ‘ojo kagetan, ojo gumunan’. Pada 1950an, kala nasionalisasi sedang gencar dilakukan. Para elite politik berlomba-lomba mencari proyekan. Bahkan ada yang mulai membangun kerajaan bisnis. Nasionalisasi yang oleh Thomas Linblad, merupakan bagian dari proses dekolonisasi merupakan pengambilalihan perusahaan swasta (Belanda) ke tangan negara. Dalam prosesnya pengambilalihan itu dilakukan secara paksa. Mungkin hal yang sama ketika mantan Anda direnggut. Rasanya sakit memang. Pada kasus lain, negara pun terkadang membeli saham. Sebagai contoh, adalah Javasche Bank (sekarang bertrasformasi menjadi Bank Indonesia). Bank semi-swasta yang kemudian dibeli sahamnya oleh negara.

Perkembangan berikutnya, setelah nasionalisasi dilakukan. Negara mengembangkan kebijakan gerakan Benteng. Kebijakan itu memberi lisensi khusus untuk pengusaha pribumi. Meski begitu, sebagaimana curhatan saya dengan Pak Bambang Purwanto, lisensi-lisensi itu malah dipratikkan oleh elite-elite politik -yang tidak sedikit merangkap sebagai pengusaha. Pengusaha Thionghoa pun diuntungkan. Lobi politik terjadi. Siapa yang memiliki lisensi, perusahaan itu akan mendapat keuntungan daripada negara. Para politisi mengakuisisi lisensi yang seharusnya diperuntukkan bagi pengusaha pribumi, sementara di sisi lain pengusaha Thionghoa peranakan membelinya. Berakar daripada lisensi-lisensi itu, muncul sebuah persekutuan aneh antara elite politik dan para pengusaha. Muncul sebuah ketergantungan dan perselingkuhan serta hubungan kumpul kebo antara elite politik dan pengusaha (pada 1950-an lebih banyak dengan pengusaha Thionghoa keturunan). Istilah keren dari hubungan yang lebih rumit dari LDR itu adalah dependent borjuasi. Budaya ‘kong kali kong’ ini yang kemudian berkembang pada masa Orde Baru bahkan sampai sekarang. Bedanya, sekarang proses perselingkuhan elite politik bukan hanya dengan pengusaha pribumi atau istri orang saja. Tetapi telah merambah kepada pengusaha asing. Tak terkecuali Freeport.

Maka dari itu, SN dalam kasus Freeport sebenarnya patut diteladani. Ia merupakan ‘produk’ Indonesia yang mewarisi warisan leluhur dan terus menjunjungnya. Pada titik ini, saya berhenti mencibir beliau dan mulai sadar. Bahwa sesengguhnya Mas SN ini merupakan representasi Indonesia paling mendekati sempurna.

Njenengan pancen Huasuu!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s