Plantungan

Plantungan

-Dokumentasi Peter Schumacher-

Pagar besi yang lembab kembali aku cumbu
Sepi saupi disini hanya ada suara tikus dan tetes air
Aku lihat Daryati menggigil ngilu
Menahan dingin menahan luka menahan air mata

Disudut lain Tukiyem melamun dan melamun
Tatapan nanar penuh nista dan derita
Menggerutu dan menyalahkan takdir
Berharap tak pernah dilahirkan tapi Entahlah

Semuanya gelap untukku
Semuanya palsu
Semuanya bisa
Semuanya Semaunya

Kembali kulihat penjaga gendut itu
Badut Boneka atau iblis sinting
Robot pembersih kami
Para manusia yang dianggap anjing

Wajah bengisnya tak sebengis yang lalu
Seragam kedok yang jadi andalan
Menyiksa dan menyangsi kami
Para manusia yang tak dimanusiakan

Heha hehe tawa yang memuakan
Heha hehe tawa yang menyeset hati kami
Merampas menjarah menelanjangi kami
Para manusia yang jadi kantong muntah

Tak berhenti aku berdoa Tuhan
Berdoa Memuja Menghamba
Kapan drama ini berakhir
Oh aku rindu sangat rindu anakku

Tukiyem kembali menangis
Tangis yang sama
Tangis yang ingin merdeka
Tangis yang kering keronta

Aku memeluknya erat
Dan selalu kukatakan sabar selalu
Daryati mengucek dan bangun
Kemudian tidur lagi

Lukanya dalam lukanya tajam
Wanita cerdas yang dibinatangkan
Yang direnggut paksa dari Ayah Ibundanya
Diseret bak babi hutan dan dilempar ke truk

Wanita cerdas yang mungkin salah jalan
Atau mungkin malah salah takdir
Dia masih perawan dan perawan
Setidaknya sebelum dia datang kesini
Dan semua hilang meradang melayang

Pernah suatu kali dia bercerita
Tentang tawa anak kecil yang dia didik
Tentang panggilan bu guru yang ia rindu
Mengabdi mengkaji mengais rezeki
Masa yang ingin dia hentikan
Namun tak bisa dan tak akan pernah bisa
Untuk selamanya selamanya dan selamanya

Salahkah dia memilih
Atau salahkah takdir yang memilihnya
Hidup yang pastinya tak sedikitpun dia berharap
Apalagi bermimpi tentangnya

Hidup kami kelam kejam Tuhan
Mereka tak menyebut kami manusia
Hidupku kelam kejam Tuhan
Oh Tuhan aku amat sangat rindu anakku

Sembari meninabobokan Tukiyem
Aku tak kuasa menahan debar di dada
Nasibku tak kalah pelik
Tak kalah rumit penuh derai air mata

Kembali aku pandang besi penjara
Kini giliranku menangis
Kini giliranku mengadu
Kini giliranku mengemis
PadaMu Tuhan Aku rindu anakku

Sungguh Oktober 1965 yang bajingan
Aku mengutuk pada kalian
Kalian yang telah merampok semuanya dariku
Anugrah Tuhan yang kalian jambret

Beribu kali aku bilang
Aku tak kenal Aidit
Aku tak kenal Dewan Jenderal
Aku tak kenal Soeharto

Aku hanya seorang ibu
Ibu yang sama seperti yang lain
Aku berbaur berkumpul dan bercanda
Dan Gerwani?
Itu hanya arisan

Aku tak tau apa itu politik
Apa itu kudeta
Aku hanya ibu-ibu desa
Yang kemaren lusa diludah kalian

Dan sekarang duduk di pojok jeruji besi
Bolehkah aku berteriak Tuhan?
Maukah kau mendengar?
Aku rindu anakku….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s