Kelamin

Lebih jelasnya, ilham tulisan ini datang pada saat mata kuliah historiografi umum. Mata kuliah yang diajarkan jurusan saya, sejarah. Memang pada awalnya, inti dari pengajarannya adalah memahami pemikiran dan sumbangsih tokoh dunia pada perkembangan historiografi.  Misal, Marx, St. Augustine, Foucalt, Machiavelli, March Bloch, Hegel sampai Ibnu Khaldun. Sebelum melangkah lebih jauh, bagi para pembaca awam, terlebih dulu harus tahu beda historiografi dan sejarah. Secara sederhana, historiografi adalah proses rekonstruksi ulang peristiwa sejarah. Upaya menghadirkan  masa lalu dengan pelbagai simbol dan makna. Termasuk tulisan, patung, bahkan monumen. Di sisi lain, sejarah adalah tentang masa lalu. Tidak lebih dan kurang. Ia sebuah peristiwa. Hanya terjadi satu kali (enmaligh). Jadi, jika Anda membaca buku yang memuat tentang rekonstruksi peristiwa sejarah.  Maka Anda tahu, itu historiografi.

Kembali berbicang mengenai mata kuliah historiografi umum. Menarik memang. Kendati begitu, yang lebih menarik adalah, salah satu ucapan perihal historiografi itu sendiri.  Dalam suatu kesempatan, Dr. Budiawan, pengajar mata kuliah tersebut berujar “Historiografi haruslah berkelamin”. Sontak beberapa menit kelas hening. Bukan karena mafhum, namun bingung. Baru kemudian, selang beberapa lama setelah mendapat sedikit pencerahan kami menjadi sedikit paham. Jadi, Dr. Budiawan ini, ingin mengatakan perspektif tulisan historiografi mestilah mempunyai jenis kelamin. Maksud beliau, apakah itu dilihat dari sudut pandang lelaki atau perempuan.

Selama ini, historiografi Indonesia terkadang luput dari perspektif perempuan. Bayangkan, untuk masuk dalam buku sejarah sekolah dasar sekali pun, seorang perempuan harus menjadi maskulin. Perempuan harus bersifat ‘kelelakian’. Faktanya adalah perang. Penafsiran perang, selama ini, adalah kegiatan yang dilakukan lelaki. Perempuan hanyalah menyokong dari belakang dengan doa dan berucap dalam hati ‘merelakan’. Tetapi terdapat segelitir perempuan yang mendobrak tatanan. Mencoba keluar dari sisi feminis menyebrang menuju ranah maskulin. Masih jelas dalam ingatan, tentang sebuah tulisan Nyi Ageng Serang. Ia harus berperang. Ditulis dengan sedikit hiperbola, Nyi Ageng Serang berperang dengan menyibakkan dan memutar selendang untuk melawan pasukan VOC. Hasilnya, ia pun masuk dalam historiografi. Kasus serupa terjadi pada tokoh wanita lain. Cut Nyak Dien istri Teuku Umar. Berperang demi Aceh. Martha Kristina Tiahahu yag ikut ‘mengangkat senjata’ di Maluku untuk melawan VOC.

Dari kesemuanya itu, dapatlah kita tahu. Selama ini perspektif maskulin sangat dominan mewarnai historiografi Indonesia. Terlepas dari itu, historiografi kita memiliki corak lain, sangat militeristis. Meski begitu kita tidak bisa mengeneralkan. Peran perempuan menjadi lebih manusiawi ketika nama R.A. Kartini dan Dewi Sartika mencuat. Perempuan tidak melulu harus berperang sebagai upaya mengukir namanya dalam sejarah. Sekarang, tulisan Anda berkelamin apa?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s