Mendobrak Stereotype

Tags

, , , , , ,

PBK-dr.Oen_

-kompas.id-

Etnis Tionghoa jarang sekali mendapat tempat dalam penulisan sejarah (historiografi) Indonesia. Terutama perannya dalam koridor kegiatan sosial. Mereka seolah tenggelam. Hal lain yang cukup meriusaukan adalah, kemunculan tionghoa dalam penulisan sejarah, dikonotasikan sebagai pihak yang mempunyai peran ekonomi saja. Bahkan pada perkembangannya mereka dicap sebagai kolaborator penjajah. Anggapan itu tidak selamanya benar. Dr. Oen Boen Ing adalah orang yang kemudian mencoba mendobrak stereotype itu. Dr. Oen –bagaimana ia biasa disapa- adalah dokter serba bisa yang dikenal sebagai dermawan dan sosiawan.

  1. Tulus dan Tidak Pandang Bulu

Selang sehari setelah kepergian Dr. Oen –ia meninggal pada 30 Oktober 1982- surat kabar nasional dan lokal memberitakan tentang kepergiannya. Peran dan kehidupan sang dokter kembali diulas. Simpulan dari beragam pemberitaan tersebut, sebagian besar berisi tentang publik yang merasa kehilangan. Dr. Oen memang dikenal tulus dalam melayani pasien. Ia tidak pernah tebang pilih memilih pasien. Baik kaya atau miskin ia layani dengan baik. Tidak berlebihan jika, ia kemudian disebut pengayom rakyat kecil. Ketika pasiennya tidak bisa membayar resep obat, beliau tidak segan untuk merogoh koceknya sendiri. Pernah suatu ketika, Dr. Oen justru marah ketika ia dibayar. Beliau mempertimbangkan kondisi ekonomi pasien. Apabila pasien adalah orang tidak berada maka ia menolak untuk dibayar. Karena dedikasi dan ketulusannya sebagai dokter, Oen Boen Ing bahkan membuka praktik dari pukul tiga pagi. Kebisaan Dr. Oen itu ditulis oleh Julius Pour dalam Intisari (Januari, 1976). Atas konsistensinya mengabdi pada masyarakat, Dr. Oen diganjar penghargaan “Satya Lencana Kebaktian Sosial” pada 1976 dari pemerintah Indonesia.

  1. Dekat dengan Puro Mangkunegaran

Setelah kepergian Dr. Oen Sri Paduka Mangkunegara IX pernah berujar. Kata beliau sampai saat ini keluarga Mangkunegara belum mendapati pengganti sepadan sosok Dr. Oen. Terutama perihal ketulusan dan keikhlasannya dalam melayani pasien. Sifat itu nampaknya sangat disenangi keluarga Puro Mangkunegaraan. Relasi Dr. Oen dan Puro Mangkunegaraan terbilang dekat. Hal itu bahkan tercermin saat upacara pemakaman beliau. Upacara itu menggunakan adat Mangkunegaran. Tidak sembarang orang mendapatkan kehormatan itu. Kedekatan dengan keluarga Mangkunegaran selaras dengan visi hidup dokter. Ada semacam titik temu antara pandangan dokter dengan budaya Jawa –dalam hal ini Mangkunagaran. Meski terlahir sebagai Tionghoa, namun Dr. Oen sangat menghayati budaya Jawa. Bagi orang yang pernah bersinggungan dengan beliau, Dr. Oen adalah orang yang sukses menerapkan ajaran sepi ing pamrih rame ing gawe (bekerja keras tanpa mengharap imbalan material). Selain itu ia juga berhasil menangkap pesan Mangkunegara I –atau Raden Mas Said- yang tertulis dalam serat Wedhatama. Serat itu berisi tiga poin yang berisi tentang ajaran hidup, yaitu : Rumangsa melu handarbeni (merasa turut memiliki), melu hangrungkebi (turut bertanggungjawab mempertahankan), dan malat sarira hangrasa wani (berani mengoreksi diri). Dr. Oen menggunakan falsafah itu sebagai salah satu dari pegangan hidupnya. Pasca kemerdekaan falsafah itu juga dijadikan pondasi untuk mewujudkan cita-cita beliau. Ia punya misi untuk mewujudkan rakyat yang sehat untuk kelangsungan hidup bangsa. Sebagai penghormatan kepada Dr. Oen atas jasanya. Puro mangkunegaran memberika gelar Kanjeng Raden Tumenggung Hario Obi Dharmoehoesodo kepada Dr. Oen. Kemudian pada 1993 gelarnya dinaikkan menjadi Kanjeng Raden Mas Tumenggung Hario Obi Dharmohoesodo oleh K.G.P.A.A Mangkunegoro IX.

  1. Berjuang pada Masa Revolusi dan Menjadi (Tionghoa) Indonesia

Masa revolusi adalah masa yang kompleks. Anthony Reid pernah menulis di Prisma bahwa masa itu sangat kompleks (1981 : 14). Sementara itu menurut Thomas Linblad dan Freek Clumbijn pada masa itu terjadi gesekan antara pribumi dan orang diluar kelompoknya –Tionghoa, Indo, dan Eropa (. Narasi etnis Tionghoa dalam sejarah revolusi Indonesia mereka dilabeli sebagai penakut yang tidak berani angkat senjata. Selain itu mereka juga kerap dicap sebagai kolaborator penjajah. Di sisi lain, etnis Tionghoa dalam kemunculan dalam peta sejarah revolusi, acap kali ditempatkan sebagai korban –kekerasan dan rasial. Akan tetapi narasi hidup Dr. Oen justru berbicara berbeda. Orang Tioghoa mempunyai sumbangsih nyata. Dr. Oen adalah orang yang memasok penisilin bagi tentara pelajar dan juga pasukan Jenderal Soedirman. Selain itu, ia juga menjadi juru rawat bagi tentara pelajar. Pada masa revolusi, saat terjadi agresi militer Belanda II di Surakarta, Dr. Oen menyertai para laskar terutama Tentara Pelajar dalam perjuangan gerilya. Peran yang dilakukan Dr. Oen pada masa revolusi secara tidak langsung membantah anggapan umum, bahwa label yang dikenakan kepada orang Tionghoa saat masa revolusi kurang benar. Pengalaman masa revolusi itu yang kemudian memupuk rasa nasionalisme Dr. Oen. Pasca kemerdekaan Indonesia Tionghoa dihadapkan pilihan sulit. Mereka –Tionghoa di Indonesia- harus memilih antara menjadi Tiongkok atau Indonesia sepenuhnya. Saat mayoritas warga Tionghoa merasa pesimistis menjadi Indonesia. Kala itu Dr. Oen dengan sadar menentukan pilihan untuk menjadi (Tionghoa) Indonesia. Pilihan itu termasuk memberikan dukungan politik pada negeri yang baru merdeka.

Menambal Ruang Kosong dalam Sejarah

Buku biografi Dr. Oen ini ditulis dengan pendekatan historis. Pelbagai arsip dikumpulkan sebagai bahan verifikasi dari sumber utama –data dari keluarga dan buku utama yang diterbitkan oleh RS. Dr. Oen. Di sisi lain, narasi hidup Dr. Oen dapat menambal kekosongan sejarah Indonesia, terutama pada masa revolusi. Ia dapat menjadi bahan klarifikasi atas label yang ditunjukkan pada Tionghoa. Bahkan hanya pada masa revolusi, namun secara umum. Bahwa ia tidak hanya mempunyai peran dalam ekonomi saja. Akan tetapi melalui rekam jejak Dr. Oen, menegaskan ada peran Tionghoa yang mempunyai sumbangsih nyata dalam pengabdian sosial –sebagai seorang Dokter.

Image

Masyarakat Informasi dan Runtuhnya Semangat Jurnalisme Kita

Tags

, , ,

@yellow-cabin.com

@yellowcabin.com –

Penghujung tahun 2015, Bre Redana dengan nada satire menulis artikel yang cukup mengguncang dunia media : “Inilah Senjakala Kami..”. Bagi saya yang berkecimpung di dunia media –pers mahasiswa BPPM Balairung UGM- hal ini cukup mengerikan. Media cetak sudah mencapai titik nadirnya. Apalagi Bre Redana membuka kalimatnya dengan sebuah pernyataan “Belakangan ini, seiring berlayarnya waktu, kami wartawan media cetak, seperti penumpang kapal yang kian dekat menuju akhir hayat”. Kapten Bre –sebagaimana orang media banyak menyapa- memberi satu bukti rujukan tentang tutup lapaknya beberapa media. Salah satunya adalah The Jakarta Globe, Sinar Harapan, dan juga tabloid Bola.[1] Maka pemilihan senjakala media cetak ini, sekilas apabila tidak direnungkan lebih dalam lebih kepada permasalahan pemenuhan ekonomi, bagaimana media cetak bisa bertahan hidup. Perkembangan teknologi semakin maju. Para pengiklan media cetak mulai beralih ke media dalam jaringan (daring) atau online. Namun apakah benar demikian?

Saya kira tidak. Ignatius Haryanto seorang pengamat media mencoba membuktikan bahwa media cetak tidak gulung tikar sepenuhnya, dalam koridor ekonomi. Memang ada keterkaitan antara tumbuh pesatnya media daring dengan minimnya investasi di media cetak. Tetapi itu tidak membuktikan sepenuhnya media cetak kalah. Dari data yang ia peroleh, pada kurun waktu 2014 pendapatan media cetak masih unggul dari media daring, yakni sekitar 10 triliun rupiah. Sedangkan, media-media online di tahun yang sama hanya mendapat keuntungan kisaran 700-800 miliar. Maka dari data pendapatan iklan media cetak lebih tinggi.[2] Ignatius pun menyoroti, faktor penurunan ekonomi di skala global juga tururt memengaruhi arus ekonomi media di Indonesia. Saat dia menulis artikel itu, ia melihat keadaan ekonomi memang sedang kurang menguntungkan.

Senada dengan Ignatius Haryanto, reporter Rappler.com Febriana Firdaus dalam liputannya menyajikan data yang hampir serupa. Media cetak tidak benar-benar kalah. Febro –sebagaimana ia disapa- memperolah data yang cukup menarik. Ia mewawancara Daru Priyambodo, Pemimpin Redaksi majalah Tempo. Daru, memaparkan bahwa satu-satunya yang bisa menggusur bisnis koran adalah perubahan ekonomi global dan perubahan redaksi di media masing-masing. Ia kemudian menambahkan jika yang terjadi sekarang adalah, seleksi media berdasarkan pengaturan keuangan media. Perkara ‘sehat’ tidaknya keuangan perusahaan. Dalam wawanacarannya dengan Rappler, Daru juga membenarkan bahwa pendapatan cetak lebih tinggi dari media online. Grup Tempo mengelola Majalah Tempo, Koran Tempo, Tempo.co dan Tempo TV. Meski dalam wawancara itu, dengan cukup  waswas ia pun melihat gerak pendapatan media online terus mengalami pertumbuhan sebesar 15 persen tiap tahunnya.[3] Jika masalah konteks ekonomi, kita belum melihat senjakala yang konkret. Kemudian apa yang dikhawatirkan Bre Redana dalam tulisannya? Senjakala yang mana yang beliau maksud?

Tentang Pengaruh Masyarakat Informasi

Bre Redana, dalam tulisannya sebetulnya lebih menyoroti pada satu hal. Lunturnya semangat para jurnalis di era Informasi ini. Ia menyinggung ekonomi memang benar. Namun bukan itu yang kemudian menjadi kekhawatiran Bre. Dalam masyarakat informasi, yang memudahkan semua akses informasi, ternyata menimbulkan satu konsekuensi terutama pada media, ataupun profesi wartawan pada khususnya. Ia menulis satu keresahan begini :

“[D]i mana pun di dunia, jurnalisme berangkat dari semangat coba-coba, didasari kebutuhan untuk mengembangkan fondasi kultural bagi perkembangan masyarakat. Semangat tersebut menyemaikan atmosfer kerja yang setengahnya beraura misi suci, menegakkan kebenaran, mengembangkan compassion, mengeksplorasi truth alias kasunyatan. Para pelakunya adalah figur-figur otodidak, yang pada perkembangannya sebagian memiliki kewibawaan intelektual melebihi doktor.”[4]

Menurut Bre, profesi wartawan adalah semacam tugas mulia. Ia harus dilakukan dengan hati-hati. Sebagaimana tujuan utama, wartawan mencari kebenaran. Mungkin bukan kebenaran mutlak tapi kebenaran metode. Dalam artian ia harus sesuai dengan prosedur-prosedur jurnalistik. Sementara suara yang akan wartawan advokasi lebih kepada ‘isme’ yang media anut. Dari pendapat ini kemudian, apa relasi dengan masyarakat informasi? Apa dampaknya bagi media?

Masyarakat informasi yang dicetuskan oleh Manuel Castell, dalam bukunya The Information Age Vol III End Of Millenium mempunyai satu konsekuensi sosial. Teknologi yang kemudian berkembang pesat. Lalu lahirnya masyarakat di ranah virtual. Membuat dunia seolah tak berjarak. Dampak paling nyata adalah masyarakat menjadi serba cepat dan instan. Masyarakat informasi a la Castell melahirkan platform media gaya baru : Media daring atau online. Kemudian yang menjadi celaka adalah, media online ini cukup mencederai gagasan jurnalisme dan dan jurnalistik yang telah lama dianut. Terutama dalam konteks Indonesia.

Lucya Andam Dewi, Ketua IKAPI, beranggapan bahwa hal ini berkaitan dengan masa lampau Indonesia. Histori masyarakat Indonesia lebih berkaitan erat dengan lisan daripada tulisan. Sebelum literasi mampu menggenapi sejarah bangsa ini, teknologi sudah keburu masuk. Hal ini dibuktikan dengan antusiasme masyarakat pada televisi yang jauh lebih tinggi daripada membaca buku. Pun teknologi bergerak begitu cepat –jika boleh hiperbola, kecepatannya melebihi cahaya. Ketika masyarakat sedang terlena dengan kotak tertawa berupa televisi, belahan bumi lain tengah asyik dengan sebuah dunia jejaring bernama internet.

Pada konteks Indonesia, masyarakat kita lebih gemar berselancar di dunia maya, ketimbang membaca buku, majalah, atau pun koran. Data Global WebIndex yang dirilis pada Januari 2015 menunjukkan jumlah pengguna internet di Indonesia 73 juta pengguna. Sekitar 74 persen dari jumlah tersebut merupakan pengguna aktif internet mobile. Setiap orang dalam sehari rata-rata mengakses internet selama 3 jam 10 menit melalui gawai pintar –atau biasa orang sebut smartphone. Hasil riset lain yang dilakukan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia -PusKaKom Universitas Indonesia pada 2014 menyebutkan, 60 persen pengguna memanfaatkan akses internet untuk mencari berita terkini.

Di sisi lain, ia punya nilai kepraktisan. Namun tidak memberikan pengetahuan yang tuntas. Menanggapi gejala itu, pelbagai media beralih dari koran cetak menuju media daring atau online. Tetapi yang menjadi masalah, ia harus melakukan penyesuaian konten, atau bahkan merumuskan kembali. Karakteristik tulisan media daring lebih kepada tulisan pendek dan memberi pengetahuan yang tidak tuntas. Ia tidak dalam dalam mewartakan berita. Namun beberapa media tetap bersikeras untuk mendirikan media daring. Meski dengan pelbagai konsekuensi. Salah satunya ‘sedikit’ melanggar nilai-nilai jurnalisme dan metode jurnalistik yang Bre Redana yakini.

Pelanggaran kode jurnalisme sebagai gagasan yang luhur, dan jurnalistik sebagai upaya pencarian kebanaran jelas bukan merupakan hal yang baik. Media daring menjadi hampa dalam pemberitaan. Sugihandari, dalam tulisannya di Kompas berusaha menangkap fenomena itu. Bahwa media daring atau online sangat minim dalam kedalaman berita. Ia mencontohkan dalam  kasus penangkapan Bambang Widjojanto. Kasus itu sudah dikupas lengkap oleh media daring. Kemudian yang menjadi unik sekaligus miris adalah, tidak menyisakan fakta berita baru dalam setiap pemberitaan.[5] Sebab dalam sudut pandang saya, pada kasus ini ia mengutamakan kecepatan

Tulisan Sugihandari didasarkan atas hasil pantauan atas enam surat kabar nasional (Kompas, Media Indonesia, Republika, Koran Tempo, Koran Sindo, dan Indopos, edisi Sabtu, 24 Januari 2015) kembali mengangkat isu yang sudah diulas media daring meskipun ada upaya dari media cetak harian untuk memperdalam tulisan dengan mengangkat fokus terkait apa yang akan terjadi setelah peristiwa tersebut. Sugihandari meganalisis dengan mengutip Ninok Leksono dalam tulisan berjudul Surat Kabar di Tengah Era Baru Media & Jurnalistik (2007) menjelaskan, semakin panjang jarak waktu pemberitaan dengan peristiwa terjadi, semakin dalam berita yang dihasilkan. Level satu, berita awal di mana semua informasi terkait dengan peristiwa dilaporkan. Level dua, berita perkembangan yang mulai menjelaskan peristiwa, latar belakang, dan hubungannya dengan hal lain. Level tiga, berita lanjutan yang mencoba menjawab pertanyaan lanjutan mengenai peristiwa awal. Terakhir, kesimpulan, yaitu kajian ulang atas peristiwa yang terjadi serta konsekuensinya.

Bre Redana pun sebetulnya dalam tulisannya berusaha membandingkan. Kerja-kerja jurnalis media cetak dengan media online. Ia mengkritik ciri media online sebagai pengaruh dari masyarakat informasi yang serba cepat. Bre menilai, yang pertama mengabarkan belum tentu yang terbaik. Karena tak jarang para jurnalis hanya menyalin press release untuk kemudian lagsung diberitakan. Tujuan itu adalah supaya hadir menjadi yang pertama bagi pembaca. Maka penekanan verifikasi, verifikasi, dan verifikasi, sebagaimana dicetuskan Bill Kovach dalam bukunya Sembilan Elemen Jurnalisme seolah tidak dipedulikan sama sekali. Menjadi miris memang. Kemudian Bre juga mengkritisi perilaku jurnalisme yang makin tergantung dengan internet. Internet memang menyediakan semua data, tapi dia tidak akan pernah bisa menggantika proses pertemuan dan wawancara, demikian tulis Bre. Maka relasi antara masyarakat informasi dengan jurnalisme kita adalah : ia mencederai itu. Karena pada akhirnya yang disebut Bre sebagai Senjakala adalah, runtuhnya semangat jurnalisme kita.

***

[1] Bre Redana. “Inilah Senjakala Kami…” Kompas. 28 Desember 2015.

[2] Igantius Haryanto. “Senjakala Koran dan Jurnalisme Kita” Kompas. 7 Januari2016.

[3] Lihat  http://www.rappler.com/indonesia/117757-senjakala-media-cetak-bre-redana

[4] Lihat  Bre Redana. “Inilah Senjakala Kami…” Kompas. 28 Desember 2015.

[5] Sugihandari. “Tantangan Surat Kabar di Tengah Puasaran Teknologi” Kompas,  22 April 2016.

Sebelum Diambil Oleh ‘Lupa’

Tags

, , ,

@erlita

@erlita –

Sastrawan fenomenal Milan Kundera, pernah berujar perihal sebuah kenangan. Sepintas peristiwa masa lalu, yang apabila disimpan dalam memori manusia akan bisa sirna. Pasalnya, memori, ketika masuk dalam kerja otak bakal diseleksi. Mana yang layak untuk tinggal, dan mana pula yang mesti moksa –hilang. Layaknya film Inside Out, memori utama dan terkuatlah yang akan bertahan. Ia membentuk pohon memori yang mengakar kuat ke tanah, menjulang tinggi ke langit. Apa yang bakal saya tulis disini adalah sebuah upaya untuk menjaga, agar tidak -sebagaimana menyitir Milan Kundera- “[h]ilang diambil oleh lupa”. Sebab lupa mempunyai kuasa bak Tuhan dalam dunia dystopia Milan Kundera. Dunia imajinasi yang Milan buat sendiri. Dan ini adalah sebuah noktah tentang (percobaan) melakukan refleksi hidup sebagai kodrat alamiah manusia. Barang tentu agar nasib sebuah kenangan, tidak seironis dan sesatire penggalan sajak Soe Hok Gie:

Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya

Tentang tujuan hidup yang satu setan pun tahu

Mari sini sayangku, kalian yang pernah mesra denganku

Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung

Kita tak pernah menanamkan apa-apa

Kita tak akan pernah kehilangan apa-apa…

***

Selayaknya anak-anak pedesaan pada umumnya, saya dekat dengan kultur-kultur pedesaan : gotong-royong, tegur-sapa atau dalam bahasa Jawa orang-orang sering menyebutnya dengan srawung. Seharusnya saya tidak akan kaget dengan hal itu. Meski begitu, muasalnya berawal ketika saya menuntut ilmu di Universitas –UGM Yogyakarta. Awalnya ada desir dalam dada. Seperti ketika menonton film bertemakan heroisme. Terdapat rasa bangga yang membumbung memenuhi dada. Kala sang pemeran utama berhasil meredam segala huru-hara. Tetapi kala masuk ke Universitas itu pula, merupakan gerbang menuju keterasingan. Saya menyebutnya terasing dari masyarakat.

Pijakan pertama di Universitas membuat saya terasing. Meminjam ide Karl Marx, Filsuf cum penggagas sosialisme menyebut kondisi keterasingan dari masyarakat dengan terminologi ‘Alienasi’.  Kondisi ketika seorang menjadi ling-lung, bingung, dan gamang akan identitas dirinya. Marx memberi contoh buruh pabrik. Buruh pabrik yang bekerja untuk industri mengalami alienasi dari : ia menghasilkan produk tapi tidak bisa menikmati, ia teralienasi dari komunitasnya sendiri karena jam kerja yang larut dan menguras. Akan tetapi yang mesti digarisbawahi, pada intinya alienasi tidak datang dengan sendirinya. Ia ada sebagai implikasi dari kondisi dan ‘tekanan’ lingkungan sekitar yang disadari atau tidak, turut membentuk pola pikir kita kemudian.

Disorientasi Diri

Dalam satu episode dalam hidup saya, Universitas seolah menjadi satu buah kandang. Kita dijejali oleh beragam kerangka teoritis. Mungkin hampir seharian. Kemudian pada sore harinya kita harus berhadapan dengan laptop yang bisu. Hanya untuk menggugurkan kewajiban mengerjakan tugas. Di lain pihak, bagi beberapa kolega yang berkuliah di kluster ilmu Saintek –ranah-ranah ilmu pasti dan postivistis- ia harus sedikit menahan kram di bagian tangan, untuk menulis laporan praktikum. Kita seperti berinteraksi dengan benda-benda mati. Teoritis dan kesibukan akan itu, mengesampingkan akan hal-hal lain. Akhirnya kita tunduk pada sistem. Sedang pada realitasnya nanti, hal itu hanya memberi sepersekian persen dalam terjun ke masyarakat nanti. Pada gilirannya mentalitas menjadi bekal utama. Anda boleh tidak setuju. Setidaknya itu menurut kacamata saya.

Di sisi lain, pada kasus yang tidak jauh pula. Pola interaksi dengan komunitas akademisi –sebutan lebih terhormat untuk mahasiswa?- terkesan memuakkan. Jarang sekali terdapat obrolan berbobot mengenai satu hal yang serius. Saya, atau pun Anda, mungkin masih mengalami masa puber yang tidak tuntas. Kita mengalami disorientasi sebagai mahasiswa. “[T]entang visi sebagai manusia seutuhnya. Kerja-kerja memajukkan peradaban dan memuliakan manusia dengan pola pikir kita sebagai mahasiswa. Karena kita bukan cuma siswa. Terdapat imbuhan ‘Maha’ sebelum kata ‘siswa’. Kita dituntut lebih bukan hanya sekedar hafal Pancasila dan lagu Indonesia Raya, yakni kerja-kerja untuk rakyat : sebut saja pengabdian”. Begitu setidaknya pendapat Romo Mangun yang humanis. Beberapa teman saya lebih miris. Kuliah adalah berkisar antara tidur dan menghabiskan uang.

Hingga sampai pada kalimat ini, saya hanya ingin bicara. Bahwa justru setelah menjadi mahasiswa, saya sebagai orang desa, (hampir) hilang rasa kedesaan saya. Bentuk konkret adalah ketika pulang, saya merasa asing saja. Ada satu hal yang telah berubah dalam diri saya. Hal itu mengejawantah menjadi bentuk rasa sungkan, segan, dan sedikit canggung untuk membaur. Sebab saya tergolong mahasiswa yang kerap kali tidak pulang. Hanya berbilang dua kali setahun saya pulang. Yakni liburan semester dan ketika Hari Raya Idul Fitri.

Nampaknya dalam diri saya mulai mengalami fase rasionalitas atau renaissance semu. Fase ketika saya mulai ingin merasionalkan, atau pernah tidak setuju pada kultur desa. Sebagai gambaran, keresahan saya akan kultur desas-desus ibu-ibu sebagai kontrol sosial. Sentimen pada anak-anak desa yang mulai beranjak ‘gondes dan mendes’ (sebutan untuk anak-anak yang ugal-ugalan dalam kacamata orang tua konservatif), dengan gaya rambut bercat terang bak bohlam lampu merk Phillips. Pun kesangsian saya mengapa, banyak kalangan tua yang masih begadang –atau juga menikmati waktu siang dengan minum kopi. Dalam kacamata ekonomi, Peter Boomgard -Orientalis Belanda ini- menyebut kultur orang Jawa yang gemar bersantai-ria (atau dalam bahasa Jawa disebut ‘nyakruk’) sebagai membuang waktu produktif(?)

Tanpa saya sadari. Kekakuan kelas dan teori buku sedikit terbawa. Saya menjadi pribadi yang kaku dan sangat teoritis. Alasan itu sebetulnya patut disangsikan. Pasalnya, sejujurnya ketidakcocokan itu lebih banyak dibumbui rasa sentimentil didalamnya. Tapi penilaian itu bukanlah hal yang tepat. Karena kemudian lupa dan alpa. Dalam kehidupan pedesaan, saya atau pun Anda, hanya harus menikmati saja dan menerima. Mengalir bagai air. Layakya air di sungai tempat Sidharta bertapa. Ia tenang, hening, serta jernih.

Pada episode selanjutnya rasa kedesaan saya yang (hampir) purna. Mendapati satu bentuk jati dirinya kembali. Sayangnya, tidak melalui buku Samuel Huntington, Fukuyama, Kuntowijoyo, atau pun Michael Foucault. Tidak pula lewat novel-novel politis George Orwell atau eksistensialismenya Albert Camus, maupun sajak romantisnya Pablo Neruda. Akan tetapi melalui ‘sekilas peristiwa’ yang tidak lama, namun bermakna. Kalau boleh latah, ini meninggalkan lubang yang dalam di memori saya sebagai manusia. Sekilas peristiwa itu bercerita perihal bentuk konkret dari sabar, emosi, memadu-padan, syak-wasangka antar manusia, kerja keras, atau sekedar pelajaran toleransi. Dan tidak lupa, sewajarnya narasi dalam hidup setiap anak Adam, sekilas peristiwa ini juga bicara ikhwal : cinta. Sekilas peristiwa itu, didapuk Universitas dengan label nama Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Kompromi dan Kejutan Tuhan

Pada awalnya saya mempunyai keinginan kuat KKN di luar Jawa. Upaya itu saya wujudkan dengan mencuri langkah awal dengan menanggapi postingan di sosial media Facebook. Kala itu seorang mahasiswa Teknik menawarkan pembuatan kelompok menuju Banda Neira, Maluku. Saya inisiatif untuk mendaftar. Setelah itu, kembali saya ikuti lini massa sosial media buatan Mark Zuckerberg itu. Di luar dugaan saya diundang untuk membuat tim pengusul ke Banda Neira. Dalam perjalanan, lembaga yang sedang saya nahkodai mengalami sedikit gangguan. Kala itu gangguan cukup serius. Saya pun bersama Dewan Pimpinan Lembaga megadakan rapat. Pada intinya, semua Dewan Pimpinan Lembaga harus siaga di Jogja. Maka dengan kecewa saya mengundurkan diri dari tim Banda Neira, Maluku. Saya berkompromi dengan keputusan lembaga, dan tentu saja berdamai dengan ambisi diri. Hal itu yang membuat saya harus menerima takdir, untuk KKN di ring bagian 1, yakni wilayah Jogjakarta dan sekitarnya.

Saya berkeyakinan, jika sistem pembentukan dadakan atau ploting mempunyai satu kelemahan. Masing-masing anggota tidak saling mengenal. Ia harus merangkai tim dari awal. Secara mendadak dan dengan waktu yg relative singkat. Implikasinya adalah, kelancaran berjalannya suatu tim. Meski begitu, saya tidak perlu, tepatnya tidak ingin membahas tentang struktural tim. Tidak pula perihal manajerial bagaimana tim ini bisa berjalan. Akan tetapi, bagi saya KKN adalah pengalaman batin yang sulit dicari (lagi). Karena ibarat sejarah ia enmaligh –hanya terjadi satu kali seumur hidup. Apabila kita mengulang pun, ‘rasanya’ tidak akan pernah sama. Sungguh. Akhirnya KKN dalam memori kolektif bagi yang mengalami, ia hanya akan menjadi glorious past –sisa kejayaan masa lampau- bagi yang menikmati dan mengambil pelajaran. Di pihak lain hanya akan menjadi ‘mimpi buruk’ bagi yang hatinya berusaha menolak dengan keras. Dan ingin lekas ia hapus dari memori hidupnya.

Bagi babak hidup saya, KKN adalah satu kejutan Tuhan. Wujud kasih bagi saya yang kepalang menyebalkan baginya, mungkin. Saya datang menjadi bagian di KKN adalah bagai satu kain putih. Orang-orang yang asing dengan saya. Tentu tidak mengenal kerangka pikir, dan visi hidup saya. Terlalu jauh itu, karena sampai sekarang pun mungkin tidak banyak yang tahu. Kecuali seorang yang kemudian kisahnya berlanjut pasca KKN. Itu pun harus melalui drama yang cukup pelik untuk diceritakan. Saya KKN di kecamatan Imogiri, tepatnya di Desa Selopamioro. Wilayah yang terletak di selatan Kota Yogyakarta. Tidak jauh dari pusat keramaian memang. Tidak seterpencil Pulau Sangihe, Miangas, atau pun Pulau Rote. Tapi cukup membuat hati bergetar, dengan segala kepingan-kepingan peristiwa yang di luar dugaan. Bagi saya mengutuki dan menyesal tidak bisa pergi (mengabdi) jauh, adalah cara Tuhan dengan memberi kejutan termanis di luar akal rasionalitas saya, yang selalu mencoba menerjemahkan letupan-letupan dalam hidup : dengan cara keluar dari bingkai ilahiah.

Anak-anak Itu Mencintai Saya

Setiap manusia yang berada pada fase kanak-kanak, apabila ia harus pergi dipanggil Tuhan, ia berhak atas kahyangan –surga. Diktum itu setidaknya bukan isapan jempol belaka yang dibuat pemuka agama, atau kitab-kitab dalam agama Abrahamik saja. Saya selalu percaya bahwa anak-anak itu suci. Ia murni, polos, dan selalu lugu. Maka apabila ada yang salah dalam tingkah polahnya, mungkin sekedar dalam bahasa Soekarno –keblinger-, kesalahan itu layak dialamatkan pada orang-orang dewasa. Sebab orang dewasa punya satu tanggung jawab moral akan anak-anak yang tanpa dosa itu.

Perjumpaan saya pertama kali dengan anak-anak di dusun KKN, secara intens dan membekas terjadi di Dusun Kalidadap I. Dusun itu sebetulnya bukan daerah tugas saya. Kala itu saya dihubungi oleh Erlita  Kusuma W. Mbak Tata –sebagaimana ia biasa saya sapa- meminta tolong saya untuk membantu program kelas bahasa Inggris, pada awalnya. Meski begitu acara siang hingga sore itu ternyata bukan hanya belajar bahasa Inggris. Mbak Tata punya ide untuk membawa anak-anak naik ke puncak cemara –salah satu bukit kecil di dusun Kalidadap I. Pemandangan disana sungguh indah. Saya menyaksikan matahari tenggelam dengan malu-malu, diiringi tawa anak-anak yang saat itu langsung mengisi memori di otak saya. Anak-anak itu mungkin tidak bisa diam, bandel, dan terkadang bertingkah konyol. Namun, satu perasaan entah datangnya darimana saya mendadak menaruh simpati, bahkan mungkin sayang.

Perjumpaan kedua dengan kawanan anak-anak KKN, terjadi di dusun Srunggo. Aktor yang menghubungi saya saat itu adalah Raindy Samudera. Saya memanggilnya Mas Rain, mahasiswa Filsafat 2008, bukan karena terpaksa memanggil ‘mas’ sebab dia lebih tua. Tetapi itu adalah bentuk penghormatan saya. Musababnya selama KKN berlangsung Mas Rain seolah menjadi kakak bagi saya. Saya dikontak waktu itu untuk mengisi program kerja yang ia gagas : Sekolah Alam. Dari sana saya kenal anak-anak dusun Srunggo. Sederet nama yang masih tak lekang di ingatan adalah Nia, Winda, Rustam, dan Nando, serta Amat. Bagi nama terakhir ini, saya ingat betul karena ia dekat dengan Sesahayu –orang yang kemudian punya tempat sendiri di sudut hati saya. Sesa selalu menyebut Amat sebagai fotografer pribadinya. Bahkan dia mengunggah hasil karya Amat di akun media sosial instagram miliknya.

Intensitas pertemuan saya dengan anak-anak Srunggo terbilang lebih sering ketimbang di Kalidadap. Setelah mengisi materi di Sekolah Alam, biasanya mereka mempunyai permintaan. Anak-anak itu selalu minta dibelikan es krim. Saya tak dapat mengelak. Dengan sepeda motor matic hitam, mereka biasanya berempat secara bersamaan, membonceng motor saya. Rustam biasa di depan. Sementara Winda, Nia, dan satu anak lagi duduk di belakang. Saya kala itu seolah berperan menjadi bapak dari anak-anak itu. Tapi saya bahagia. Ketika mampu membelikan es krim. Lalu mereka merekahkan senyum, dan tertawa terkebahak tanpa unsur paksaan apapun. Bahagia ternyata sesederhana itu, bagi orang yang mau membuka hatinya pada kebahagiaan yang lahir dari energi positif anak-anak.

Sementara itu, di dusun tempat saya mengabdi, di Kajor Kulon namanya. Entah mengapa menyebut nama Kajor Kulon, seolah ada sesak dalam dada. Tapi itu hal lain untuk diceritakan. Anak-anak seolah memperlakukan saya layaknya Kapten Jack Sparrow dalam film Bajak Laut “Pirates Of The Caribean”. Mereka adalah anak geladak kapal yang setia dan berani. Saya membuat banyak acara bersama mereka. Terkadang hal sepele semisal berburu Pokemon yang saya akses dari gawai pintar –bahasa Indonesia dari Smartphone menurut J.S. Badudu- milik Irriani Sajja (merupakan teman paling tidak bisa diam di Sub Unit Kajor) yang mempunyai pribadi selalu lucu dalam tingkah polahnya.

Pada lain kesempatan kami mengadakan out bound. Saya ikut didalamnya membaur bersama pemuda disana. Kemudian mendekati masa periode ujung pengabdian. Saya mendokumentasikan kegiatan yang kami lakukan. Sambil menyanyikan lagu, dan permainan tradisional saya merekam sebuah video. Bahkan secara khusus album foto yang berisikan potret mereka saya simpan. File itu tertata rapi dalam folder khusus di komputer jinjing saya. Deretan nama anak-anak di Kajor Kulon banyak sekali. Nama anak-anak lelaki yang masih hinggap dalam ingatan adalah Danis, anak dari Pak Widodo seorang perangkat desa Selopamioro. Terdapat juga Kunto –saya biasa menyapanya dengan Kunto Aji. Lalu ada pula Dimas yang sampai sekarang masih menjalin kontak dengan saya. Entah itu sekedar menyapa bertukar kabar, atau pun hal penting semisal meminta doa saat akan Ujian.

Anak-anak yang rutin menyambangi pondokan kami adalah yang perempuan. Tiga serangkai Nabila, Wulan, dan, Vita. Mereka semua dekat sekali dengan Naila. Mahasiswa Psikologi yang gemar mendengarkan keluh kesah kami di pondokan Kajor Kulon. Di Pondokan terdapat lima orang anggota perempuan. Selain Iriani dan Naila, ada Brita dan Nia yang ketika menari senam ‘gemar makan ikan’ kelihatan bak teletubbies. Sisanya ada Yuni yang menjabat sebagai Bendahara Unit. Yuni agak pendiam. Tapi satu hal, Yuni pandai dalam memijat. Ini jangan ditafsirkan pelbagai macam. Pijat yang dimaksud adalah hanya sekedar melemaskan otot-otot, yang tegang selepas menunaikan program kerja. Lalu ada Sumbodo yang didapuk sebagai Koordinator Mahasiswa Unit.

Nabila, Wulan, dan Vita selalu berkonsultasi dengan kami. Terutama untuk diajarkan bagaimana menyelesaikan Pekerjaan Rumah mereka. Saya sering membantu, Naila juga. Kami berdua tidak jarang meladeni mereka. Di lain kesempatan, dan merupakan momen paling epic bagi saya adalah, saya pernah memboncengkan ketiga anak itu untuk mengambil tebu di kajor Wetan. Statusnya adalah tetangga dusun. Akibat mereka terus merengek minta makan tebu. Saya dengan malu-malu meminta izin pada pemilik lahan. Beruntung pemilik lahan mengenali saya berhak arahan Pak Dukuh. Sebetulnya Pak Dukuh lah yang kenal dengan saya. Beberapa kali saya silaturahmi ke rumah beliau. Setelah mendapat tebu, ketiga anak perempuan itu tertawa, dan mengucapkan “Terima kasih mas Bagus ganteng dan baik”. Dalam sekejapan hati saya tersentak. Saya dibuat terharu. Mungkin pula bahagia.

Anak-anak Kalidadap, Srunggo dan Kajor Kulon. Kini masuk dalam babakan sejarah hidup saya. Diam-diam, anak-anak yang tidak ada ikatan biologis dengan saya ini, telah membuat saya empati, bahkan masuk ke fase menyayangi. Saya mendadak cemas. Takut apabila mereka tumbuh dengan pengawasan yang tidak baik. Gelagapan ketika dihadapkan pilihan hidup yang kerap kali rumit. Khawatir akan hak mereka untuk memperoleh pendidikan yang tinggi. Sebab saya percaya, pendidikan adalah kunci untuk orang menjadi mulia. Meski tidak semua. Akan tetapi, saya menaruh harap pada mereka. Supaya suatu saat mereka bisa membuat kedua orang tuanya, meneteskan air mata karena bangga akan pencapaian-pencapaian luar biasa. Sementara kapasitas saya lebih banyak pada sebatas mengirim doa, yang saya jamin itu tulus.

Tabula Rasa

Konsep tabula rasa, sederhanannya begini. Bahwa manusia lahir sebagai mahluk yang kosong. Ia adalah mahluk pra-pengetahuan, pada awalnya. Kemudian ia mendefinisikan dan merumuskan satu perasaan berdasarkan peristiwa yang dialaminya sendiri. Teman psikologi saya mungkin tidak setuju. Itu boleh. Namun bagi saya, konsep itu merupakan pilihan tepat. Bahwa KKN turut mewarnai dan memberi suplai terhadap tabula rasa dalam hidup saya. Kemudian yang paling penting adalah mengembalikan rasa, dan orientasi ‘kedesaan’ saya. Hal itu agar saya tidak teralienasi di ruang hidup saya sendiri sebagaimana Marx sabdakan.

Martin Aleida dan Warisan Lekra

Tags

, , , ,

@imgrum.net

@imgrum.net –

Lantai dua toko buku Toga Mas Jalan Affandi Yogyakarta, terlihat masih sepi. Hanya ada beberapa kursi yang terisi. Karpet yang digelar untuk lesehan pada bagian depan pun masih sangat lenggang. Saya kemudian duduk di karpet bagian depan. Tepat menghadap meja pembicara. Sabtu malam, 6 Januari 2014, memang akan diadakan diskusi kumpulan cerpen Martin Aleida yang berjudul Mati Baik-Baik, Kawan. Martin pun hadir tepat waktu selaku pembicara. Bukan saja Dosen IKJ itu yang menjadi pembicara, namun pengamat sastra, Katrin Bandel dan Romo Baskoro pun ikut ambil bagian. Acara dimulai tepat pukul 20.00 WIB. Terlambat satu jam dari jadwal seharusnya. Diskusi ini digagas oleh Social Movement Istitute (SMI).

Martin Aleida mendapat giliran berbicara pertama dari pihak pembicara. Tidak ada yang spesial dari pembicaraan Martin. Mantan anggota Lekra ini, lebih banyak bercerita pengalamannya. Alih-alih berbicara teoritis yang memusingkan. Saya kira, Martin malam itu seperti memicu sesuatu yang lama sekaligus baru. “Pasca tragedi 65 bagi kami (orang-orang yang dituduh PKI) adalah bagaimana cara bertahan hidup sesudahnya” kata Martin. Kehidupan pasca tragedi 65 memang sangat banyak disinggung di pelbagai karya. Akan tetapi masih minim yang bercerita mengenai orang-orang yang berhasil bertahan. Lebih banyak para sejarawan ataupun Indonesianis berkutat pada tataran mereka yang menjadi korban. Mereka yang telah tiada. Bahkan ada yang masih berkutat pada perdebatan berapakah jumlah korban sesungguhnya? Sungguh menguras waktu. Tingkat kebaruan, sebenarnya ada pada pengalaman saya sendiri. Ketika Martin bertutur ihwal perjuangannya saya merasa tersentuh. Terdapat satu ikatan emosional didalamnya.

Satu ilmu penting dari penuturan Martin malam itu, katanya “[d]alam menulis sebuah cerpen, atau apapun kau tidak akan pernah bisa menulis. Tulisanmu tidak akan bernyawa. Jika kau tidak turun langsung memahami korban”. Maksud Martin adalah metodenya dalam penulisan cerpen karyanya. Sebuah ajakan pula untuk kami yang hadir saat itu. Untuk menuliskan kisah seseorang, korban tragedi 65 misalnya, kau harus turun langsung. Bercumbu dan menyatu dalam kehidupannya. Mengikuti segala lakunya tiap hari. Cara makan, bagaimana ia tidur, dan menyelesaikan serta memandang suatu permasalahan hidup. Supaya penulis dapat merasakan peperangan batin dan penderitaan emosional di dalamnya. Lagi pula, pesan Martin memang ditunjukkan untuk kami, untuk kita semua. Berhubung Martin mengalami langsung prahara 65 dan peristiwa-peristiwa ketidakadilan selanjutnya, oleh Orde Baru. Metode ‘turun langsung ke bawah ini’ ia dapat ketika masih berkecimpung di Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Buah dari metode semacam ini adalah sebuah penghayatan yang total dan dalam.

Lebih jelasnya, pembuktian metode ini ada pada buku Mati Baik-Baik, Kawan. Martin tidak hanya sekedar bercerita. Tetapi mencoba merekonstruksi sejarah. Ia membuat pembaca tidak sekedar menikmati sebuah alur kisah, namun sekaligus mencoba memahamkan perihal kisruh 65 yang sangat membingungkan. Terlepas dari konflik politik yang memanas di kancah nasional, terdapat individu-individu yang terkena imbas luar biasa dalam kehidupannya. Martin memilih ruang-ruang privat para korban untuk digali. Menjadi unik ketika konsep yang dipilih adalah kematian. Gagasan Martin adalah dalam tragedi 65 para korban bahkan tidak bisa menikmati kematian secara wajar. Ia berefleksi pada mereka yang ‘dibantai’ pada kurun waktu 65-66. Mereka yang dituduh PKI. Bahkan untuk menikmati kematian secara wajar pun, rasanya sangat susah. Kematian yang Martin maksud adalah ia (kematian) sebagai peristiwa sosial. Sebab ketika kita membenturkan makna kematian pada masing-masing orang, definisi yang muncul beragam. Persepsi akan kematian yang baik-baik pun demikian. Kematian sebagai peristiwa sosial ketika mencapai level baik -bagi Martin dan Katrin Bandel pun mengamini itu adalah hal-hal yang berlaku di masyarakat. Kebaikan mati, jika diukur dalam perspektif sosial -misal mati diiringi doa, tahlil, dan diantar menuju liang peristirahatan terkahir.

Martin memunculkan kematian sebagai konsep perlawanan. Konsep itu muncul di cerpen pertama, Mangku Pergi ke Daratan Jauh. Ia melakukan perjalanan dari Bali menuju Lampung. Sayangnya ketika sampai di Lampung, seekor Kera yang merupakan sahabat perjalanannya, mati digigit anjing rabies. Ia pun menguburkannya sambil mengucapkan lirih, “Mati Baik-Baik, Kawan”. Kematian Kera milik Mangku merupakan suatu perlawanan. Mangku ingin menunjukkan bahwa hewan pun layak menjalani kematian yang pantas. Mengapa manusia tidak? Lagi pula kematian itu pun seolah menyiratkan harapan pemiliknya, Mangku, keinginan untuk mati yang baik-baik. Saya tak hendak mendedah cerpen satu-persatu yang tertulis dalam buku Mati Baik-Baik, Kawan itu. Anda mungkin akan menemukan hal yang berbeda ketika membaca. Sangat tergantung dengan penghayatan. Tidak ada penghakiman atas salah penafsiran dari pembacaan, semua benar, sebagaimana yang dikatakan Martin malam itu.

Karya Martin agaknya lebih baik, menurut saya, ketimbang aliran sastra wangi yang akhir-akhir ini muncul. Larung karya Ayu Utami, misalnya. Larung memang berpijak pada peristiwa 65 sebagai latar belakang. Menceritakan Larung yang lahir sebagai anak Gerwani. Meski begitu, Ayu tidak mengenyahkan stigma dalam masyarakat tentang ‘kutukan’ bahwa PKI itu buruk sebagaimana yang diciptakan Orde Baru. Dalam sebuah halaman, Ayu hanya menulis “Gerwani tidak menyilet para Jenderal!”. Ungkapan itu, hanya akan membela Gerwani secara organisasi. Sebab faktanya, orang awam sangat rancu dalam memahami hubungan PKI dan organisasi (yang dituduh) afiliasinya.

Berangkat dari karya-karya yang mencoba memunculkan tragedi 65 sebagai sebagai latar. Katrin Bandel membagi jenis sastra yang demikian menjadi tiga. Pertama, karya yang hanya menjadikan tragedi 65 sebagai pijakan. Meski begitu isinya tetap memojokan mereka yang diduga PKI. Karya macam demikian itu sangat marak muncul di era Orde Baru. Bahkan saya ingat ketika kampung buku Jogja 2015. Arswendo Atmowiloto menulis sebuah buku yang saya lupa judulnya. Pada sub bab yang ia tulis saya cermati. Isi sub bab buku itu saya masih ingat jelas, antara lain begini : Kebiadaban di Rumah M.T. Haryono, Kebinatangan di Kediaman D.I. Panjaitan. Ironisnya, Arswendo pula yang menulis salah satu komentar di buku Martin. Sementara itu ia tampil berbeda ketimbang buku yang ia tulis, dulu.

Aliran kedua, Katrin memberi gambaran, berupa karya yang hanya memunculkan rasa kasihan pada korban tragedi 65. Rata-rata berbentuk memoar dan kesaksian. Tokoh yang kerapkali muncul adalah, mereka (korban) yang tidak menahu perihal komunisme. Mereka hanya diceritakan sebagai korban yang harus dikasihani. Karya semacam itu, bagi saya pun, tidak menggusur adagium anti PKI. Sebab tidak mencoba mengeksplorasi fakta-fakta yang demikian tersembunyi. Aliran ketiga, adalah yang paling maju dari kedua macam gaya sebelumnya. Karya ketiga ini, tidak hanya sastra yang dapat dinikmati alur saja. Lebih dari itu berperan sebagai pendobrak dalam kemajuan sejarah. Pemasukkan fakta-fakta sejarah yang telah digali itu kemudian diakumulasikan dengan emosi pribadi. Maka dari itu tidak hilang rasa kemanusiaan yang ingin disampaikan.

 

Lantas kau akan menulis aliran yang mana?

Seperti Apa Kau Ingin Mati?

Tags

, , ,

@ilustrasi-tribunnews.com

@ilustrasi-tribunnews.com –

Aku membayangkan, dan cukup bulat sudah untuk mengamini itu. Aku ingin mati dalam usia yang tidak terlalu tua. Pun tidak juga terlalu muda. Sekiranya adalah umur 45 tahun. Usia 46 pun boleh juga. Supaya angka kematianku sama dengan nomor pembalap Valentino Rossi. Aku menaiki podium, kala memimpin suatu sidang. Tepatnya sidang umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Kami mendukung Amerika dan Inggris untuk dihukum berat. Semua negara anggota PBB atau pun tidak, harus bersetuju tentang penandatanganan, bahwa semua negara akan menutup diri dari Amerika.

Terdapat skenario yang begitu rumit untuk aku ceritakan. Tetapi ini bukanlah sebuah klaim. Anda, nikmatilah saja pertunjukkan ini. Masing-masing negara harus berani mengambil keputusan. Dengan catatan pula, mengesampingkan risiko yang ada nanti. Aku mendesak. “Ini demi kemanusiaan”. Gumamku. Sudah banyak darah yang tertumpah. Penyakit akut dewasa ini adalah terus melakukan ‘pembiaran-pembiaran’  itu.

Aku mendengar anak-anak berdecit dalam setiap tidurku. Beberapa muncul dengan wajah terkena lepra. Dan yang lainnya datang ke mimpiku, ke kamar tidurku dengan membawa kepala, dan dalam kondisi tubuh yang tidak sempurna. Seorang anak kecil menaiki ranjang tidurku dengan wajah tak berbentuk. Aku berkeringat. Ketika aku menengok ke kanan, ada beberapa anak sedang merangkak. Kedua kaki mereka hilang. Mereka semua memandangku dengan nanar. Miris sekali aku melihat. Apakah ini gambaran paling jujur dari perdaban sekarang? Aku menolak mengimani, jika perang adalah kondisi yang ‘wajar’. Oh kemana perginya peradaban itu? Buku-buku yang kalian tumpuk sebagai hasil dari berjam-jam diskusi? Rakyat mana yang kita bela?

Aku membenci segala perlakuan kekerasan. Atas nama agama, negara, bahkan Tuhan. Sudah banyak terminologi perang di jalan Tuhan itu muncul. Dan aku miris ketika kalian membanjiri jalan Tuhan dengan darah, dan memagarnya dengan moncong senjata. Terlebih dulu kalian asah dengan membenturkannya dengan kepala anak-anak tanpa dosa.

Sebelum aku naik ke podium, apa yang aku harapkan di dunia untuk hadir dalam hidupku, sudah lebih dari cukup. Aku berkeinginan, dan aku berusaha meraba. Sidang itu sedang sangat gaduh. Para diplomat itu, memaki-maki dengan bahasa yang tidak pantas dikeluarkan oleh pembawa muka negara. Aku sudah mencapai semua hasrat dalam hidup ini. Mendapatkan cinta yang kompleks. Kisah yang tidak begitu jauh menderita, dan paling manis menurutku. Aku mendapatkan kebebasan perasaanku untuk memilih. Aku tidak pernah membiarkan dunia mendikte keinginanku.

Aku telah melihat salju kala usia 23 tahun. Aku merasakan kanal-kanal Amsterdam yang muram itu. Bebatuan yang berbicara, “kami ada karena tanahmu. Benar sekali, tanahmu adalah tempat kami mengapung”. Aku menangis kala itu. Pasalnya sebelumnya, aku menangis tapi dengan musabab yang berbeda. Aku gagal menguasai bahas Inggris dan Belanda. Keduanya, syarat wajib untuk masuk ke Amsterdam University.

Dan sekarang disinilah aku. Jauh dari Ayah dan Ibuku serta adik-adikku. Dan aku bisa berdiri bangga, dengan memandang wajah keledai para tetangga pengganggu itu. Rasakan kau. Itu untuk kalian. Aku senjata Ibuku. Aku sangat senang. Rasanya dunia sudah jadi milikku. Aku sudah tidak berhasrat pada makanan, produk, teknologi, mata uang dari belahan dunia mana pun. Kiranya aku sudah siap mati. Aku tak ingin terbangun dari mimpi. Sebentar lagi aku akan mendapatkan kematian terindahku. Aku melangkahkan kaki menuju mimbar sidang, di Jenewa. Ketika aku belum menyelesaikan sebuah kalimat “Ladies…. and….”

Door.!!! Peluru menembus dadaku. Tepat menghujam di antara tulang rusukku. Ini seperti aku ditelanjangi.

Aku tersenyum. Ini kematian yang aku cari.

Belajar Dari Inside Out

Tags

, , ,

@movies.disney.com.au

@movies.disney.com.au –

Memasuki semester enam ini, entah mengapa akhir-akhir ini saya mempunyai kebiasaan unik. Ketika waktu senggang saya akan memilih pulang ke kos. Mengunci pintu kamar dan istiqomah memandang laptop. Ketika sore biasanya akan sampai maghrib. Sementara kala waktu senggang kebetulan ada pada malam hari, saya bisa begadang sampai subuh. Sayangnya percumbuanku dengan laptop bukan untuk suatu hal yang sedikit produktif, namun sekedar nonton film.

Kali ini saya baru saja menamatkan Inside Out. Film yang baru pertama kali saya tonton ini mempunyai gagasan yang unik. Inside Out berusaha merasionalkan fenomena emosi yang ada pada manusia. Dulu mungkin kita beranggapan bahwa emosi atau pun rasa adalah hal yang tak terjangkau. Ia absurd dan tidak bisa dijelaskan. Meski begitu Inside Out berusaha menggoyang kemapanan tersebut.

Gagasan merejetkan kerja-kerja alam-termasuk emosi yang ada pada manusia- adalah implikasi daripada pemikiran rennaissance. Sebelum abad pencerahan datang. Dunia penuh dengan takhayul. Manusia mudah sekali percaya pada hal-hal yang irasional. Ia tidak pernah keluar dari bingkai Ilahiah. Hal tersebut membuat manusia tidak berkembang. Setidaknya itu menurut para pemikir rennaissance macam Galileo dan kawan-kawan. Maka bagi orang yang mengimani zaman pencerahan, abad sebelumnya adalah kegelapan.

Dalam Inside Out, ada lima tokoh yang mewakili emosi manusia. Masing-masing adalah Joy representasi dari kebahagiaan, Sadness lambang kesedihan, dan sisanya jijik, marah, dan takut. Tiga terkhir itu saya lupa namanya. Kelima tokoh ini bekerja menurut porsinya masing-masing seharusnya. Meski begitu pada perkembangannya Joy berusaha menghegemoni atas semuanya. Joy menginginkan manusia yang pikirannya mereka tempati itu, selalu berada pada perasaan bahagia. Maka hal paling logis adalah menyingkirkan Sadness.

Kendati demikian, dari Inside Out saya jadi belajar beberapa hal. Bahwa sebetulnya untuk menjadi manusia tidak melulu harus selalu bahagia. Terkadang kesedihan perlu dilewati dalam satu fase. Mungkin itu yang orang-orang bilang menjadi lebih dewasa. Manusia adalah akumulasi dari pelbagai macam perasaan. Beruntunglah bagi yang masih bisa merasa : sedih, iba, simpati, empati. Kamu masih manusia.

Hal lain adalah ketika melihat bola-bola memori dalam Inside Out saya terbayang diri sendiri. Memori dalam hidup 20 tahun mana yang masih bisa saya raba. Kebersamaan bersama Kakek Abu, momen perpindahan dari Tarub ke Slawi, tiga kali harus mengantar kakek, dan dua nenek ke peraduan terakhir sebelum kelas lima SD, dan dikejar-keja Abah karena tidak belajar Madrasah. Mungkin banyak juga yang hilang. Tetapi saya harap bukan cuma saya saja yang menjaga memori. Saya harap orang yang pernah bersinggungan dengan saya pun demikian. Saya tidak mau bermartubasi memori sendirian. Rasanya sunyi jika tidak ada tempat berbagi.

 

Apabila Olanda Masih Ada

Tags

, , , ,

@bataviadigital.perpusnas.go.id

@bataviadigital.perpusnas.go.id –

Apabila Olanda masih ada

Rambut pirang akan membanjiri kota

Jakarta? Tidak ada

Batavia! wahai meneer Van Java

 

Para tikus tak akan berani bersua kecut

Mereka kembali merangkak menyembah Tuhan Olanda

Bapak-bapakmu akan kembali berpeluh

Resah merana terluntang di jalan raya

 

Semua kenikmatan akan lenyap

Kau tidak akan bisa menyombong bangga

Mahkotamu akan diambil Olanda pula

Sebagaimana nenek-nenek moyangmu dulu punya

Tak akan ada wanita berkuda

Mereka hanya akan diliputi rasa waswas

Masa depan mereka hanya jadi gundik belaka

Kemudian mereka menangis anaknya tak diakui gereja

 

Olanda adalah cambuk Tuhan

Bagi bangsa besar yang suka ingkar

Berjuang tidak sebercanda itu kawan

Olanda kembali untuk buat perhitungan

 

Olanda ingin disini lagi

Bermandikan rempah dan kayu manis

Dada coklat anakmu akan kembali diusap

Dijejer untuk dijadikan selir

 

Angin tak akan sempat berhembus

Bahkan laut tak mau berombak

Olanda telah datang mengendus

Dan kita tak sedia punya tombak

 

Kita lalai

Lalai

Lalai

Terlena

Tersungkur

Terluka

Hancur

Dan berucap eloi eloi lama sabakhtani!

Rohingya

Tags

, , ,

Belakangan ini, isu pengungsi Rohingya menjadi perbincangan yang hangat. Baik di media sosial maupun forum-forum di tingkat Universitas. Rohingnya memaksa dunia menoleh pada mereka. Perkara nanti tolehan itu bersambut empati dan simpati, nanti dulu. Karena sebagian juga sepertinya agak ‘ogah’, dan sebagian lagi memilih pura-pura tidak tahu.

Rohingya, secara hukum, adalah warga negara Myanmar (Burma). Meski ras mereka lebih mendekati ras-ras yang ada di Bagladesh. Terusir, karena dianggap tidak sebangsa atau pun alasan yang tidak diketahui, tapi yang pasti mereka tidak diinginkan. Media cetak maupun online, gencar menceritakan bahwa oknum dibalik terusirnya Rohingya adalah para biksu Budha yang memang punya akses langsung dengan pemerintah Myanmar.

Kini, orang-orang yang tak diinginkan itu pun, terombang-ambing di lautan. Kabar burungnya, dari mereka untuk bertahan hidup terpaksa meminum air mani sendiri. Air bersih yang merupakan bahan dasar kebutuhan manusia susah didapatkan. Banyak dari mereka dalam perjalanan mencari tujuan yang tanpa ujung itu terpaksa merenggang nyawa. Negara-negara di kawasan ASEAN pun seolah tidak mau menampung. Mereka langsung memasang kaki untuk siap menendang (bahasa kasarnya seperti itu). Tapi salahkah? Tunggu dulu.

Pemerintah Indonesia, yang masuk kategori mereka ‘yang memasang kaki’ diposisikan dilematis. Meski harusnya atas nama kemanusiaan, harusnya bangsa Indonesia, dan patutnya mengulurkan tangan. Tapi kenapa harus cuma Indonesia. Baik, karena mereka (Rohingya) adalah muslim, dan mayoritas penduduk Indonesia juga muslim. Tapi mengapa Malaysia tidak?

Saya kira, keputusan Indonesia untuk tidak menanggapi pengungsi Rohingya bukan suatu kesalahan. Secara legal, kedatangan para pengungsi Rohingya ke Indonesia mengapa di halau TNI, karena masalah kedaulatan. Peraturan negara menyebutkan, setiap warga negara asing yang datang ke suatu negara yang dituju mesti mengantongi izin, misal Pasport. Maka dari itu, ihwal pengungsi Rohingnya, apakah sempat membuat pasport? yang bahkan diantaranya datang hampir telanjang. Saya cuma menegaskan TNI secara legal berlaku benar. Sebab, pemerintah pusat, setahu saya memang tidak memberikan instruksi kepada mereka di perbatasan. Jadi posisi Indonesia sebenarnya pun dilematis.

Nalar dan rasio sepertinya membuat nurani tertutup. Sekarang terdapat armada baru, yang siap membela muslim yang terkatung itu. Pembesar Turki, Erdogan, tertatih-tatih dari jauh menawarkan uluran tangan. Pembelaan Erdogan, saya masih ingat “Selama laungan adzan masih terdengar, disitulah tanah airku. Jangan halangan kapal perang kami (Turki) untuk menolong saudara kami”. Sangat herois. Bahkan saya sampai tergetar. Selain Turki, Aceh pun menawarkan bantuan. Mereka mempersilahkan para Rohingya itu untuk singgah. Mengapa Turki? dan ada apa pula Aceh?

Ihwal kedua negara ini, jika diruntut secara Historis memang mempunyai ikatan ‘batin’ yang kuat. Dulu, sekitar abad 16, terdapat jaringan dagang islam yang solid. Jaringan ini kemudian berkembang tidak hanya di bidang perdangan, bahkan berlanjut ke hubungan diplomatis dan penyebaran islam. Kisah lada secupak kiranya bisa memberi gambaran. Isinya, tentang perjalanan Kapal kerajaan Aceh yang mengirimkan persembahan berupa lada yang banyak kepada kekaisaran Usmani. Sayangnya, lada-lada itu hanyut di lautan berbarengan dengan kapal yang tenggelam. Akhirnya, hanya secupaklah yang berhasil sampai di Islambul (Ibu kota Usmani). Persembahan itu merupakan pertanda. Hubungan patron atau klien, bisa jadi. Karena jika tidak salah, Turki pun pernah mengirimkan armada kapal perangnya ke Aceh. Jaringan itu tidak hanya berhenti di Aceh, tapi menyebar di sebagian wilayah Asia lain, terutama di Timur Tengah, dan kawasan India. Jaringan yang sedemikian kuat itu disebut ‘Ummah’. Berangkat dari sini, sangat mungkin jika Turki maupun Aceh tergugah rasa persuadaraan Muslimnya untuk menolong Rohingnya.

Kita seringkali terjebak dalam masalah praktis peraturan, dan itu dirumuskan. Tapi, manusia seringkali lupa bahwa ia manusia, yang tidak boleh kehilangan rasa kemanusiaan. Jika itu hilang apa bedanya dengan hewan? Lantas bukankah manusia pun merumuskan bahwa kemanusiaan berada di atas segala-galanya?

Memetakan Historiografi Awal

Tags

, ,

Pada periode Yunani – Romawi, pemikiran manusia bebas. Tidak ada sekat-sekat pembatas. Manusia memaknai dirinya secara utuh. Saat itu, manusia mulai mempertanyakan dirinya, eksistensinya, dan Tuhan. Kegemaran mempertanyakan ini pula yang nanti memunculkan sebuah lembaga Universitas (dalam arti asli ; aktivitas bertanya) yang bernama academia, oleh Aristoteles. Dalam pandangan Yunani dan Romawi, manusia adalah aktor utama dalam hidup. Maka segala pemikiran yang berkaitan dengan kebutuhannya sangat masif. Pemikiran yang demikian bebas mempengaruhi berbagai aspek kehidupan. Misal, seni yang berkembang pesat, seperti drama yang mempertontonkan nilai kehidupan, dan manusia secara asli. Kemudian arsitektur yang bagus nan indah, seperti kuil Athena di bukit Acropolis. Dari segi politik, muncul pemikiran tentang Demokrasi (Asal kata demos dan cratos ; arti harfiah pemerintahan rakyat) yang dipelopori Athena. Sistem itu membuat semua rakyat Athena berhak bersuara untuk kelangsungan hidupnya. Suara mereka diwakili para dewan rakyat.

Selain seni dan arsitektur, dan politik, pemikiran Yunani – Romawi pun menyentuh aspek pengetahuan, tak terkecuali dalam penulisan sejarah. Sebab, masa sebelum Yunani- Romawi, penulisan sejarah hanya disanggap sebagai tradisi tulis atau kesaksian saja. Periode ini beperan penting dalam ‘pengilmuan’ sejarah (Hughes – Warrington, 2008 ; v-vi). Hingga akhirnya muncul historiografi setelah itu. Maka, kondisi masa itu, secara tidak langsung membentuk pula karakteristik historiografi. Pada periode Yunani-Romawi ada beberapa karakter yang dapat dianalisis. Pertama, pemikiran ide ide sejarah cenderung spekulatif. Banyak fakta-fakta yang belum diverifikasi. Munculnya adalah sejarah yang penga-andai-an. Kondisi seperti itu dalam dimaklumi. Sebab, saat itu, tatanan metodologi belum mapan. Kedua, pandangan Yunani-Romawi, akan gerak sejarah adalah berjalan seperti laiknya roda. Pelbagai peristiwa akan terus berulang dan berulang. Sebagaimana roda yang berputar untuk mengganti sebuah siklus. Pandangan lain, tentang gerak sejarah masa itu, adalah spiral (Hughes-Warrington, 2008, vii). Yakni, sebuah peritiwa pola yang maju akan terus kembali ke bentuk mula. Namun, terdapat kemajuan dalam pandangan spiral ini ketimbang gerak sejarah yang diibaratkan seperti roda. Ketiga, ciri sejarah masa Yunani-Romawi, adalah sejarah masih tercakup dalam lingkup politis dan militer.

Tokoh penting dalam historiografi pada masa Yunani dan Romawi adalah Herodotus (484 – 424 SM) dan Thucydides (460 – 400 SM). Mereka berdua telah membangun Sejarah sebagai ilmu. Herodotus berperan dalam menyumbangkan karya sejarah naratif pertama. Karya itu adalah Histories. Meski begitu karya itu dihujat karena dianggap tidak valid. Karena, ia (Herodotus) memasukan semua sumber informasi. Tidak ada filter (pemilihan) dan klarifikasi dalam karyanya. Celakanya lagi, karyanya kemudian disebut karya yang dusta. Terlepas dari itu semua, apresiasi yang tinggi patut diberikan pada Herodotus. Sisi positif yang pada pemikiran Herodotus adalah, kepiawaiannya dalam menggabungkan berbagai unsure. Seperti geografis dan etnologi. Dan hal seperti itu, pada masa itu, tidak berkembang pada orang lain sezaman. Herodotus merupakan unggulan pada zamannya. Dan meruapakan Sang Pemula. Karya Herodotus yang paling masyhur adalah Histories. Karya ini menceritakan tentang Perang Persia dan Yunani. Kemudian terdapat pula penyerbuan Xerxes, Raja Persia.

Di sisi lain, Sejarawan yang berpengaruh selanjutnya adalah Thucydides. Jika Herodotus berpengaruh untuk penulisan sejaraf naratif pertama, Thucydides berjasa dalam pengembangan sejarah menuju keilmuan. Sebab, Thucydides mengenalkan tentang pentingnya verifikasi (kritik sumber). Menurutnya, sejarawan, dalam melakukan penelitian mesti membedakan sumber. Tujuannya agar tidak terjebak dalam ketidak validan. Maksud dari Thucydides adalah agar memperoleh karya yang benar-benar utuh. Karya Thucydides yang paling berpengaruh adalah History of Peloponesian War. Kemudian karya lain adalah History.

Menurut Fransesco Petrach (1304-1374), abad pertengahan bermula dari abad 4 M sampai 14 M. Periode ini merupakan masa penghubung dari zaman kuno menuju zaman modern. Kondisi sosial pada abad pertengahan sangat terkekang. Pengaruh dan dominasi gereja menguasai segi sosial, politik, bahkan pemikiran. Konsep-konsep teologi menyebar sangat masif. Pemikiran yang berkembang, manusia adalah objek Tuhan (Ilahi) Maka, ia harus patuh dan membaktikan diri pada Tuhan (Gereja). Unsur gereja menguasai hampir sendi kehidupan, bahkan pendidikan. Tidak heran pada masa itu hanya ada satu bentuk sistem institusi pendidikan, yakni model monastic (biara). Akibatnya, transfer ilmu yang terjadi juga masih belum keluar dari bingkai ketuhanan.

Kondisi seperti itu, turut mempengaruhi penulisan sejarah. Karakter historiografi saat itu adalah, Pertama, Historiografi yang terbentuk memuat unsur-unsur dogmatis. Artinya, pemikiran masih berdasarkan Kitab Suci (Alkitab), dalil kenabian, dan kultus ketuhanan menjadi pondasinya. Penulisan sejarah selalu tertuju, dan bertujuan untuk melegitimasi bingkai ketuhanan, dalam hal ini lembaga gereja. Kedua, Historiografi yang ada memuat unsur elitis. Mereka yang masuk dalam penulisan sejarah adalah golongan elite bangsawan. Cerita dan topic yang keluar, berupa kehidupan para elitis tersebut. Ketiga, gerak sejarah menurut abad pertengahan adalah lurus vertical ke atas, yakni langsung berhubungan dengan Tuhan. Keempat, Historiografi masa ini, cenderung normatif. Berisi tentang pesan-pesan kebaikan dan pengabdian kepada Tuhan. Karya-karya abad ini menunjukan bagaimana seharusnya manusia bersikap. Dan bagimana mencapai unsur untuk menuju kesholehan.

Tokoh yang paling berpengaruh pada Abad pertengahan adalah St. Agustinus. Pemikirannya, adalah sejarah merupakan salah satu aspek dari ciptaan Tuhan, termasuk didalamnya hidup dari seluruh umat. Sebagai sebuah karya, sejarah memiliki awal dan akhir. Singkatnya, menurut Sri Margana “[s]ejarah memiliki asal-usul, tujuan dan bergerak secara linier progresif ( Hughes-Warrington, 2008, viii). Karya Agustinus yang paling terkenal adalah City Of God. Berkenaan tentang kerajaan Surga dan Neraka. Dalam bukunya, ia ingin menyampaikan, sejarah tak ubahnya adalah sebuah pertarungan antara yang baik dan buruk. Kekuatan baik diwakili oleh Surga, dan Buruk oleh Neraka (Civitas Dei Civita Eterna).

 

Sumber dan Referensi :

Hughes, Marnie – Warrington, 50 Tokoh Penting Dalam Sejarah, Pustaka Pelajar, (Yogyakarta, 2008)

Lubis, Nina, Historiografi Barat, Alqa Print Jatinanor, (Bandung, 2000)

Magnis-Suseno, Franz, Pijar-Pijar Filsafat, Kanisius, (Yogyakarta, 2005)

March Bloch

Tags

, , ,

Tidak banyak tokoh yang mempunyai pengaruh yang mengakar dalam sebuah disiplin ilmu. Ia mesti dan dituntut memberi sebuah terobosan, sudut pandang baru, atau pun penawaran yang rasional dalam bidang ilmu tersebut. Lebih dari itu, ia yang akan mempunyai pengaruh mengakar adalah, pemikirannya harus diikuti oleh para akademis sesudahnya, diterima setelah dikaji dan, karena pemikiran itu punya daya tawar rasio yang masuk akal. Maka dari itu, sosok March Bloch, merupakan salah satu dari para pemikir, dalam bidang sejarah yang mempunyai pengaruh kuat. Bahkan, tidak bisa dipungkiri, pemikiran March Bloch merasuk dalam historiografi kita, di Universitas Gadjah Mada. Pengaruh March Bloch pun, dengan mazhab Annalesnya menyebar ke ranah Amerika. Mereka (sejarawan Amerika) mengakui kepenulisan sejarah sosial Bloch, menjadi penting. Mereka pun meletakan kehormatan terbesar sebagai pelopor sejarah sosial kepada sarjana-sarjana Prancis, terutama yang mendapat pengaruh Bloch. (Kuntowijoyo, 2003 ; 39)

Dalam pembahasan tentang March Bloch, saya membagi tiga sub bahasan. Pertama, ihwal biografi, yang memuat berkenaan dengan latar belakang keluarga, jejak akademis dan kehidupan pribadi March Bloch. Kedua, adalah pemikiran-pemikiran dan sumbangsih March Bloch dalam hisoriografi. Termasuk di dalamnya pengaruh mazhab Annales. Ketiga, karya-karya March Bloch yang banyak menjadi rujukan.

March Bloch merupakan sosok yang cemerlang, bergerak di dua bidang. Tataran akademis dan ranah politis. Ia adalah sejarawan genius, namun di sisi lain sisi, sebagian besar hidupnya pun digunakan untuk membebaskan Prancis pada saat Perang Dunia II. Akan tetapi, kita akan berfokus pada figur March Bloch sebagai seorang akademisi, dalam hal ini sejarawan.

Sejarawan Prancis ini lahir di Lyon pada 6 Juli 1888. Ayah dan Ibunya merupakan sejarawan Roma terkemuka, yakni pasangan suami istri Gustave Bloch dan Sarah Einstein Bloch (Marnie Hughes Warrington, 2008 ; 16). Bloch dibesarkan di Paris, kota dengan intelektual yang tergolong baik, saat itu. Jejak akademis Marh Bloch bermula ketika ia masuk Lycee-Louis-le-Grand di Paris. Kemudian, pada 1904, ia mengambil konsentrasi pembelajaran sejarah dan geografi di Ecole Normale Superiure. Lalu ia pun pernah mengenyam pendidikan di University of Berlin. Selain belajar di perguruan tinggi, ia kerap kali mengambil kursus di lembaga-lembaga pendidikan lain, misal, Ecole des Hautes Etudes dan College-college Prancis yang mempunyai cabang di Athena dan Roma.

Karirnya sebagai akademisi kian terlihat. Setelah ia diangkat menjadi Profesor di Fakultas Sastra di Lyons. Tidak cukup sampai disitu, ia juga diangkat sebagai guru besar sejarah Romawi di Sorbonne pada 1904, lalu di Montpellier (1921), di Amiens (1913), dan di Straussborg (1921). (Dr. Nina Lubis. 2000 ; 93-94) Kapakaran Bloch, dalam bidang sejarah memang pada mulanya mempunyai lingkup di sejarah Romawi. Setelah pertemuan dengan Lucian Febvre, arah kajian Bloch mulai berpindah haluan, menuju ke arah  sejarah sosial.

Sementara itu, perihal kehidupan keluarga March Bloch. Ia menikah dengan asisten sekaligus sekretaris pribadinya, Simone Vidal, pada 1919. Karir akademis yang terkesan mulus, berbanding terbalik dengan kehidupan Marh Bloch sebagai propagandis politis. Ia gugur pada saat rezim Hitler menguasai Prancis. Ihwal kematiannya sebagaimana dikutip dari Braudel “[I]a melarikan diri melalui Dunkirk. Disana ia tinggal beberapa lama. Akan tetapi pada 8 Maret 1944, ia bersama teman-temannya ditangkap Gestapo. Berselang beberapa bulan, ia kemudian ditembak oleh pasukan Hitler, hanya beberapa hari sebelum Hitler menyerah” (Braudel, 1977 ; 92-94 dalam Dr. Nina Lubis 2000 ; 96). Menariknya, sebelum ia ditangkap kemudian ditembak, ia sempat menuliskan sepucuk surat pada koleganya Lucian Febvre, berisi rasa kecewanya karena telah salah mengambil risiko menjadi akademis cum propagandisSurat itu bertanda 17 September 1939 (ketika Perang Dunia II mulai pecah) “[S]aya seharusnya menghindarkan diri dari tugas sebagai propagandis. Para sejarawan harus menjaga tangannya tetap bersih”.

Pemikiran dan Kontribusi March Bloch pada Historiografi

Pemikiran berangkat dari keresahan. Dan pula, bertolak dari pengamatan empiris kondisi di sekitar. Bagi ilmu-ilmu sosial, lahirnya pemikiran baru, acap kali, karena suatu teori yang mendominasi pada zamannya, dianggap telah usang, dan tidak bisa mendedah permasalahan yang ada. Begitu pula dalam penulisan sejarah (Histotografi). Terdapat dua poin besar yang membuat resah March Bloch, yang kemudian nantinya melahirkan historiografi alternative. Pertama, pada sekitar akhir abad 19, historiogarfi Eropa saat itu, didominasi oleh Jerman. Corak dari historiografi Jerman adalah militeristik dan politis. Sejarah hanya berada tataran elite. Tema yang muncul pun berkisar antara perang dan perpindahan kekuasaan, atau transisi antar rezim. Corak seperti ini, seolah tidak memberi ruang bagi yang disebut “orang-orang tanpa sejarah” untuk berperan. Lalu, ia pun melupakan aspek-aspek yang lain, misal ranah sosial. Kedua, ilmu-ilmu sosial saat itu sudah berkembang pesat. Akan tetapi, sejarah masih berkutat pada tataran naratif-deskriptif. Perlu adanya sejarah yang analitis.

March Bloch, memberikan sebuah penawaran bagi jalannya historiografi. Pertama, menurutnya, sejarah tidak berkisar seputar orang-orang besar, maupun perang. Akan tetapi, misal, sosial, ekonomi, agraris, interaksi antar manusia, dan pedesaan pun berhak menjadi fokus penting dalam kajian historiografi. Penawaran topik-topik baru itu, merupakan wujud dari pada dominasi sejarah politik dan militer. March Bloch mewujudkan pemikirannya itu, dalam bahasannya perihal feodalisme Eropa. Ia mengungkapkan sistem agraris pun berperan, terutama dalam pembentukan landasan sistem feudal serta susunan masyarakat. Dari kajian ini, kemudian berkembanglah sejarah agraris, sosial dan ekonomi (Kartodirdjo, 2014 ;52). Hal ini menunjukan kajian kajian, non-politik juga sangat menarik. Dimensi-dimensi yang sebelum Bloch, tak tersentuh.

Sumbangsih March Bloch Selanjutnya adalah, penggunaan ilmu-ilmu sosial sebagai cara untuk menjelaskan suatu fenomena sejarah. Menurutnya, sejarah yang deskriptif-naratif, menjadi tidak memuaskan untuk menjelaskan permasalah, atau gejala yang kompleks. Sebabnya, karena ilmu sejarah terlalu miskin teori untuk mendedah permasalahan-permasalahan tersebut. Teori-teori yang bisa digunakan adalah teori ilmu-ilmu sosial lain, misal, ekonomi, sosiologi, atau antropologi. Maka yang bisa dilakukan oleh ilmu sejarah, adalah meminjam teori-teori ilmu lain, dengan cara approach (pendekatan). Maka dari itu, pendekatan multidisipliner ilmu dalam kajian sejarah menjadi penting. Mengingat ilmu-ilmu sosial pada zaman itu, mengalami perkembangan yang cukup pesat. Hal itu merupakan suatu yang relevan untuk mewujudkan analisis historis. Berkenaan dari itu, Sartono Kartodirdjo pun, mengamini apa yang dilakukan oleh Bloch, ia menambahkan pula, mengapa sejarah memerlukan ilmu-ilmu bantu sosial yang lain. Lagi pula, kata Sartono “[S]tudi sejarah tidak terbatas pada pengkajian hal-hal informative tentang apa, siapa, kapan, dimana dan bagaimana. Tetapi juga ingin melacak pelbagai struktur masyarakat, pola, kelakuan, kecendrungan proses dalam pelbagai bidang, dan lain-lain. Kesemuanya itu, menuntut adanya alat analitis yang tajam dan mampu mengeksplorasi fakta, unsur, pola dan sebagainya.” (Kartodrdjo, 2014 ; 136-137).

Wujud karya March Bloch berkaitan dengan pendekatan ilmu-ilmu sosial bagi sejarah adalah risetnya tentang sejarah pedesaan, di berbagai negeri di Eropa Barat. Dalam penelitiannya diungkapkan gambaran serta pengertian baru tentang kondisi kehidupan pedesaan di masa lampau. Gambaran itu antara lain, hubungan antara tuan tanah dan petani penggarap, kedudukan bangsawan di pedesaan, pungutan-pungutan, soal-soal demografis seperti angka mortalitas dan natalitas, naik turunya harga dll. Lantas, perkembangan produksi petanian mendapat sorotan, dan peristiwa-perisiwa yang mempengaruhi desa tersebut, seperti perang, pergantian cuaca dan iklim, curah hujan, atau pun kegelisahan sosial. Untuk memperoleh informasi detail tentang hal-hal itu, maka sangat dibutuhkan untuk bekerja sama dengan interdisipliner ilmu, misal ahli ekonomi, antropologi, sosiologi, maupun demografi. (Kartodirdjo, 2014; 218). 

Annales

Puncak tertinggi pemikiran March Bloch, dituangkan dalam Jurnal Annales-Annales d’histoire Economique et Sociale. Jurnal itu terbit pada 1929 dengan bekerja sama dengan Lucian Febvre. Gagasan-gagasan March Bloch, seperti penawaran historiografi yang baru dan idenya tentang menggunakan ilmu-ilmu sosial sebagai ilmu bantu sejarah tercetak dalam Annales. Maka Annales adalah wujud konkret buah pikiran March Bloch. Dari Jurnal ini, kemudian berkembang mazhab Annales yang tersohor itu.